Harumnya Bisnis Parfum

Kompas.com - 10/06/2011, 14:52 WIB

KOMPAS.com - Parfum tidak hanya mengubah tubuh menjadi wangi, tetapi juga meng­ubah mood atau suasana hati. Sejak dulu, kandungan-kandungan dalam parfum diakui bisa memengaruhi mood. Misalnya parfum dengan kan­dungan buah jeruk. Setelah mencium wanginya, kita akan merasa segar dan bersemangat. Di lain pihak, perasaan tenang timbul apabila kita mengenakan parfum dengan wangi daun teh.

Kebutuhan orang-orang untuk tampil maksimal dengan mengenakan parfum bisa kita manfaatkan sebagai peluang usaha. Mike Rini Sutikno, CFP, dari MRE Financial & Business Advisory, mengatakan, dari segi bisnis usaha parfum memiliki beberapa karakteristik, yaitu:

* Bersifat awet (long-lasting). Usaha ini bukanlah usaha musiman yang “meledak” di saat-saat tertentu. Perkembang­annya berjalan terus secara stabil. “Sejak dulu hingga sekarang, parfum tetap digemari orang-orang,” ujar Mike.

* Bergantung atau berkaitan erat dengan tren fashion. Menurut Mike, parfum memang sudah menjadi kebutuhan banyak orang, tetapi bukanlah bagian kebutuhan primer atau utama. Fungsi parfum cenderung sebagai pelengkap busana. Contohnya ketika kita memasuki milenium baru. Tren fashion saat itu berkisar pada barang-barang dengan aksen metalik. Hasilnya, para produsen menghadirkan wewangian yang sejalan dengan tema itu, yaitu yang berkesan tegas.

“Sebelumnya orang-orang jarang mengenakan parfum yang wanginya tegas. Yang biasanya digunakan adalah yang wanginya manis,” kata Mike.

* Mewakili mood, menjadi simbol identitas dan alat untuk menya­takan sesuatu. Pada umumnya seseorang tidak memiliki hanya satu parfum, melainkan beberapa. Parfum-parfum ini digunakan dalam berbagai acara. Misalnya untuk ke kantor, kita menggunakan parfum dengan kesan tegas. Untuk bermesraan dengan pasangan, kita menyemprotkan parfum dengan wangi feminin. Untuk menghadiri arisan keluarga, kita mengenakan parfum dengan wangi segar.

Margin lebih besar

Berbisnis parfum, terutama parfum bermerek yang asli, akan menguntungkan karena harganya relatif mahal. Mayoritas parfum bermerek adalah produksi luar negeri karya perancang-perancang ­asing. Pembelinya pun dari kalangan kelas menengah ke atas. Ini ter­utama disebabkan harga­nya yang mahal. “Kalau menyukai wangi suatu parfum, mereka pasti membelinya. Urusan harga belakangan,” ujar Mike.

Selain itu, meskipun frekuensi pembelian rela­tif rendah, tetapi margin lebih besar. Anda tentu tidak terlalu sering membeli parfum. Namun ketika membeli, biasa­­nya Anda memilih parfum ber­ukuran sedang atau besar sehingga tidak cepat habis. Dengan harga jual yang lebih mahal, keuntungan yang didapat pun lebih besar.

Sebagai pengusaha pemula, Anda bisa memasarkan parfum ini secara mobile atau door to door.  Arti­nya kitalah yang mendatangi pelanggan. Dengan “menjemput bola”, menurut Mike Anda bisa menciptakan hubungan yang lebih erat dengan para pelanggan. Kemungkinan terjadinya repeat buying atau pembelian kembali lebih besar.

Di samping itu, sistem ini juga efektif untuk memenangkan persaingan usaha yang ketat. Karena Anda menawarkan parfum ini dengan mendatangi rumah atau kantor pelanggan, pelanggan merasa kebutuhannya difasilitasi, tidak perlu repot-repot pergi ke mal untuk membeli parfum.

“Kalau sudah menjalin hubungan erat dan bisa meyakinkan pembeli bahwa parfum yang kita jual adalah asli, kita bisa menjual parfum merek apa saja kepada mereka. Karena sudah yakin bahwa itu asli, pelanggan bisa merekomendasikan kita kepada kenalan-kenalan mereka,” ujar Mike.

Bila usaha Anda sudah berkembang dari skala mikro atau kecil ke menengah, Anda bisa mulai membuka counter. “Sistem penjualan secara mobile bisa tetap dijalankan, tetapi bukan lagi oleh kita, melainkan oleh anak buah. Tugas kita di tahap ini adalah mengembangkan bisnis, bukan sekadar berjualan parfum,” Mike menerangkan. Penjualan door to door oleh karya­wan dilakukan untuk mempercepat penjualan, tetapi tetap dibantu dengan adanya counter atau toko.

Untuk dapat berbisnis parfum, setidaknya ada beberapa persyaratan yang perlu Anda miliki.  Antara lain:
1. Kenali benar dunia parfum. Carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai parfum, kandungan-kan­dungannya, racikannya, wanginya, istilah-istilahnya, dan lain-lain. Dengan demikian, kita bisa menyesuaikan keinginan pelanggan dengan parfum yang kita tawarkan.

2. Amati tren. Bisnis ini memang dibutuhkan orang, tapi belum tentu kita bisa langsung sukses.
Mike mengingatkan, “Kita harus bisa mengetahui trennya. Wangi apa yang sedang digemari orang? Wangi apa yang selalu digemari orang dan selalu laku dibeli? Kemampuan ini akan membantu si pengusaha memenangkan persaingan bisnis.”

3. Perhatikan citra diri. Parfum adalah dunia yang berhubungan dengan kecantikan. Mike berpendapat bahwa sangatlah penting untuk memerhatikan penampilan kita. Ini menjadi semacam personal brand. Orang tidak percaya bahwa kita berjualan parfum kalau penampilan kita sendiri jelek. Makin menarik penampilan, makin percaya orang dengan jualan kita.

“Bukan berarti kita harus tampil menor, tetapi jangan sampai kita terlihat lusuh dan berantakan. Hal tersebut akan menurunkan citra kita di mata pelanggan, terutama pelanggan kelas atas,” ujarnya.

Mike juga menyarankan, saat berbisnis parfum branded yang asli, sebaiknya hindari pembayaran secara mencicil. Mike mengakui bahwa ini adalah hal yang cukup umum ketika berjualan parfum secara door to door. Namun sebagai pengusaha pemula, kita membutuhkan modal dalam jumlah banyak untuk membeli stok parfum sehingga bisnis terus berjalan. Apabila jumlah modal sudah mencukupi, tidak ada salahnya kita memberlakukan pembayaran dengan sistem cicilan.

Bagaimana, Anda berminat menjajal bisnis ini? Atau Anda lebih berminat mengembangkan usaha bibit parfum? Baca juga artikel Mengapa Usaha Bibit Parfum pun Diminati?.

(Disarikan dari majalah Sekar)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau