Mengapa Usaha Bibit Parfum pun Diminati?

Kompas.com - 10/06/2011, 15:04 WIB

KOMPAS.com - Bibit parfum adalah sari atau ekstrak wewangian dari berbagai sumber. Kualitasnya masih murni, belum dicampur bahan-bahan apapun, termasuk alkohol.

Sebagai contoh, jika ingin membuat parfum dengan wangi mawar, kita melakukan penyulingan ekstrak bunga mawar. Demikian pula dengan wangi vanila, melati, teh, atau yang lainnya. Kemudian bibit parfum ini dicampur dengan senyawa lain (etanol dan air) untuk melarutkannya. Muncullah wewangian yang kemudian dijual sebagai parfum dalam berbagai ukuran dan juga kemasan.

Saat ini terdapat banyak penyedia bibit parfum. Ada juga yang menjualnya secara grosir. Kita bisa membeli bibit ini dan menjualnya secara terpisah kepada pelanggan. Jika punya keahlian, kita sendiri yang mencampurnya sesuai keinginan pembeli.

Seperti saat berbisnis parfum branded yang asli, membuka usaha bibit parfum juga menguntungkan. Berikut alasannya:
1. Harga jual murah. Penyebabnya adalah karena kita berjualan bahan dasar parfum. “Bibit itu bersifat bahan dasar mentah, makanya harganya murah,” kata Mike Rini Sutikno, CFP, dari MRE Financial & Business Advisory.

Harga parfum ini biasanya berkisar antara puluhan ribu rupiah. Kemasannya cukup beragam. Ada yang berbentuk pulpen spray (8 ml), roll on (4 dan 8 ml), dan botol (15, 20, 25, 30 dan 50 ml). Ukurannya memang tidak sebesar parfum bermerek.

2. Produk yang dijual tidak bermerek. “Yang kita jual adalah bibitnya, bukan produk jadi atau produk akhir,” tutur Mike. Namun kita bisa saja memberikan merek terhadap parfum hasil racikan kita sendiri dan memasarkannya. Namun menurut Mike, langkah ini cenderung lebih sulit dilakukan ketimbang memasarkan parfum bermerek yang sudah ada.

“Kita harus memikirkan calon pelanggan, siapa yang akan membeli parfum kita? Dibutuhkan usaha dan waktu untuk memperkenalkan suatu merek kepada publik,” kata Mike.

3. Pembeli dari kalangan kelas menengah ke bawah. Bagi mereka, yang penting adalah harga. Merek tidak jadi masalah, tidak harus yang berbau asing. “Bagi pelanggan tipe ini, parfum tidak perlu yang mahal atau asli. Yang mereka cari adalah parfum versi ekonomis dan mereka bisa se­ring gonta-ganti. Itu sebabnya mereka membeli parfum berukuran kecil,” Mike menjelaskan.

4. Wanginya bervariasi. Berbeda dari parfum bermerek, variasi parfum dalam usaha ini berasal dari kreasi si pembeli sendiri. Ia bisa meminta parfum yang terbuat dari berbagai bibit. “Kalau punya pengetahuan yang baik tentang parfum, kita bisa membantu pembeli memadumadankan beragam wewangian,” tutur Mike.

5. Frekuensi pembelian relatif tinggi, tapi margin lebih kecil. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pembeli parfum ini senang sekali bergonta-ganti. Ukuran kemasan parfumnya pun tidak seberapa. Mungkin dalam satu minggu kita bisa melayani hingga belasan pelanggan, namun nilai transaksinya tidak seberapa. Untuk mendapatkan untung sebagaimana yang diinginkan, jumlah orang yang datang membeli harus benar-benar banyak.
 
Kebanyakan penjual bibit parfum membuka toko atau kios dan tidak berjualan secara mobile. Mereka masih menjual produk mentah. Jadi mereka membutuhkan ruangan sebagai tempat mencampur bibit parfum dengan bahan-bahan lain. Bisa saja kita berjualan bibit parfum secara mobile, tetapi tentunya cenderung lebih merepotkan. Selain membawa ba­nyak bibit, kita juga harus membawa alat-alat untuk mencampurnya.

Menurut Mike, bukan berarti cara ini tidak bisa dilakukan. “Ini menan­tang, dan kita bisa menjadi pelopornya. Namun pastikan bahwa upaya yang kita lakukan dengan berjualan secara mobile sebanding dengan harga jual bibit dan prediksi keuntungannya,” kata Mike mengingatkan.

Kiat berbisnis bibit parfum
1. Ketahui cara meracik parfum. Selain mencari informasi, kita juga harus sering berlatih. Lama-kelamaan kita akan bisa menemukan formula yang pas sesuai keinginan pembeli.

2. Amati tren. Pembeli dari kalangan ini juga memerhatikan tren, lho. Mereka bisa saja menyukai wangi parfum bermerek dan mencari padanannya dalam versi parfum kreasi bibit. Kita bisa membuat racikan yang mendekati wewangian parfum itu. Kita bisa mengatakan bahwa parfum A wanginya mirip parfum B. Katakanlah secara jujur bahwa parfum itu hanya mirip, tetapi tidak sama.

“Tentu saja komposisinya tidak sama 100 persen karena itu adalah rahasia dapur produsen parfum. Selama tidak memberikan merek dan kemasan yang sama dengan parfum asli, kita bisa menjualnya,” kata Mike.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau