The paijo family (6)

Sepasang Mata Mengintip

Kompas.com - 11/06/2011, 01:41 WIB

Cerita bersambung Jodhi Yudono

Sekali tiup, padamlah nyala lilin yang berjumlah tujuhbelas di atas kue tart. Maklumlah, karena Onah mendapat bala bantuan dari emak dan bapaknya yang dengan sekuat tenaga menghembuskan nafas berikut percikan ludah untuk memadamkan nyala lilin sebagai pertanda genapnya usia Onah yang ke-tujuhbelas.

"Hip Hip Hura," seru Tarigan yang jadi pembawa acara.

"Stop, stop. Kayak bule aja pake hip hip hura. Ganti hore aja," Maing yang merasa ikut andil atas terlaksananya hajatan ultah Ona buka suara.

"Kasih kesempatan dulu kepada the Faijo Pamili untuk memberi sambutan," Cecep turut meramaikan suasana.

"Paijo Family, Cep..." Apollo yang asli Nias menimpali.

"Sebodo teuing, Enakkan juga pamili, lidah-lidah gue," Cecep tak mau kalah.

"Sssstttt, sudah-sudah, gue pembawa acaranya, gue rajanya, yang lain diam," Tarigan menenangkan suasana.

Sejenak Tarigan bertatapan dengan Onah sebagai tuan rumah, setelah Onah mengedipkan mata tanda setuju, pemuda berdarah Batak itu pun berseru kembali, "hip hip... hore...."

"Ngapain pake hip hip segala," Maing masih memprotes.

"Hei.. Maing, cem mana pulak kau, sudahlah.. aku yang atur pesta ini, kau turut saja!" sambar Tarigan.

Menyaksikan adegan perseteruan dua remaja itu, Pay dan Ijah tak kuat menahan tawa. Maka, begitu melihat si empunya rumah tertawa, meldaklah tawa seisi ruangan.

Ha ha ha ha...

"Hip hip... hahahahaha....."

Sementara di dalam ruangan hingga halaman yang biasa digunakan sebagai warung terbuka Mak Ijah riuh oleh tetamu yang bergembira, sepasang mata mengintip dari balik pelepah palem botol di luar pagar rumah Paijo. Cahaya matanya nampak bahagia, tapi di tepian bola matanya nampak air mata mengembang.

Dialah Hendry yang datang diam-diam. Dia hanya ingin melihat Onah dari kejauhan untuk memastikan sang mantan kini lebih bahagia setelah pisah darinya.

Hendry tak kuasa berlama-lama di sana. Dengan sapu tangan merah jambu, dia usap air matanya, lantas bergegas meninggalkan persembunyiannya.

Saat bersamaan, di dalam ruangan, Onah sedang membuka sebuah kado tanpa identitas. Entah apa soalnya, hatinya tergetar saat tangannya membuka isi kado itu.

Sebuah kamera saku dengan secarik kertas menyertainya. "Semoga panjang usia, bahagia senantiasa. 'H'." Usai membaca, mata Onah langsung jelalatan. Dia tahu, pengirimnya ada di sekitar rumah. Lantas, tanpa pamit ke siapapun yang ada di ruangan, Onah bergegas keluar rumah.

Onah tertegun, saat matanya menangkap punggung yang pernah ia kenali dulu, melesat bersama motor yang dikenadarinya. "Bang Hendry..." seru Onah lirih.

Sejenak Onah mematung di sana, di luar pagar rumahnya. Dia baru tersadar saat tangan kukuh milik ayahnya memegang kedua pundaknya. "Ayo ke dalam lagi, nak. Kawan-kawanmu sudah menunggu untuk melanjutkan acara," suara Pay lembut.

Lamat-lamat dari dalam rumah terdengar suara Ody, penyair yang juga musisi, sedang berlagu sambil memetik gitar.

cinta... kau dengarkah suaraku/

memanggil namamu tiap detik tiap waktu

cinta... kau rasakan debar rinduku

bergelora slalu, seperti laut biru

yang pecah di pantaimu.. di pantaimu... di hatimu

Syair dan suara Ody langsung membuat pecah tangis Onah. Anak gadis itu tak kuasa menahan kepedihannya. Sambil sesunggukan, dia peluk tubuh ayahnya erat-erat.

Melihat kesedihan Onah, Ody pun menghentikan nyanyiannya. Tapi ini tak lama, sebab Onah justru meminta Ody menyelesaikan lagu ciptaannya itu.

ingin kulipat jarak membentang

biar leluasa aku menyentuhmu

tak cuma seperti bayang-bayang

yang selalu saja membuatku kelu

bagaikan lonceng yang berdentang-dentang

dari malam hingga sampai ke ujung senja

hatiku tak pernah sunyi lengang

oleh wajahmu cinta, oleh wajahmu cinta.. cinta...(lagu "Cinta", JY)

Usai Ody menyelesaikan lagunya, Onah tersenyum seraya mengusap air matanya. Plok plok plok...

Tepukan tangan Onah menjadi pelengkap sempurna suasana sore itu. Seisi ruangan kembali ceria ketika semua tamu mengikuti Onah bertepuk tangan.

Menjelang adzan maghrib, pesta usai. Onah memang bahagia, tapi ada yang menyerupai duri menusuk-nusuk dadanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau