Israel Jegal Palestina

Kompas.com - 11/06/2011, 02:37 WIB

Jerusalem, Jumat - Israel dikabarkan akan melancarkan kampanye global untuk menggalang dukungan guna mengganjal usaha Palestina mencari pengakuan kedaulatan di PBB. Kementerian Luar Negeri Israel telah memerintahkan semua diplomatnya bergerak.

Kabar tersebut dipublikasikan koran Israel, Hareetz, Jumat (10/6). Menurut laporan itu, Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel Rafael Barak memerintahkan para diplomatnya di kantor perwakilan Israel di seluruh dunia untuk bertemu dengan politisi paling senior di negara tempat mereka bertugas, memobilisasi organisasi-organisasi setempat, media, dan menggalang opini publik untuk menentang keinginan Palestina tersebut.

”Tujuan yang telah kami tetapkan adalah mengumpulkan sebanyak mungkin negara untuk melawan proses pengakuan negara Palestina oleh PBB,” tulis Barak dalam memo tersebut. Kampanye global diplomat Israel ini dinamakan Forum September karena keinginan Palestina tersebut akan diajukan pada sesi Sidang Majelis Umum PBB, September mendatang.

Pemerintah Otoritas Palestina pimpinan Presiden Mahmoud Abbas mengejar pengakuan kedaulatan di PBB dalam bentuk permohonan untuk diterima sebagai anggota penuh di organisasi dunia tersebut. Langkah ini diambil Abbas setelah perundingan damai dengan Israel terhenti tahun lalu.

Menlu Palestina Riad Malki menyatakan, Palestina bertekad terus berjuang agar diterima di PBB, September nanti, kecuali perundingan damai berlanjut dengan berlandaskan parameter-parameter yang disebutkan Presiden AS Barack Obama bulan lalu.

Keinginan Palestina itu mendapat dukungan sebagian besar anggota Majelis Umum PBB. Dalam Konferensi Tingkat Menteri Ke-16 Gerakan Nonblok (GNB) di Nusa Dua, Bali, dua pekan lalu, Indonesia dan negara-negara GNB bertekad menggalang dukungan bagi usaha Palestina ini.

Namun, langkah Palestina diduga akan kandas karena AS, sebagai pendukung utama Israel, kemungkinan besar akan menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk mencegah keluarnya rekomendasi kepada Majelis Umum. Usulan keanggotaan PBB harus mendapat rekomendasi Dewan Keamanan PBB.

Melihat prospek negatif itu, beberapa pejabat teras Otoritas Palestina dikabarkan telah menyarankan Abbas untuk membatalkan proses ini. Beberapa pejabat Palestina kepada Associated Press, Kamis, mengatakan, tekad Abbas di PBB tersebut diambil sekadar untuk mempertahankan kredibilitas. ”Kami terjebak dengan September. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah itu,” tutur salah seorang pejabat tersebut. (AP/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau