Lagu anak

Cinta Bahasa dan Odong-odong

Kompas.com - 12/06/2011, 23:37 WIB

Bahasaku bahasa Indonesia

Kupakai kujaga kubangga

Mari kawan kita berbahasa Indonesia

Dengan tepat baik dan benar....

Aku bangga berbahasa Indonesia

Itu penggalan lirik lagu ”Bahasaku Bahasa Indonesia” karya Julia Tampubolon. Meski ada bagian lirik yang terkesan ”sloganistis”, seperti

”Mari kawan kita berbahasa Indonesia/ Dengan tepat baik dan benar...”, lagu tersebut menemukan maknanya dalam konteks

Indonesia saat ini, di mana petingginya suka menyusupkan bahasa asing dalam pidatonya—sampai timbul kesan seolah bahasa Indonesia begitu miskinnya hingga diperlukan bahasa lain untuk menyampaikan maksud sang petinggi.

”Bahasaku Bahasa Indonesia” menjadi seperti pengingat orang akan bahasa ibu. Ia mengajak orang untuk ingat akan

Sumpah Pemuda. Berikut penggalan lirik lainnya, ”Satu Tanah Airku Indonesia/ Satu bangsaku Indonesia/ Satu bahasaku Indonesia/ Indonesia kucinta....”

Lagu berirama riang itu menjadi pemenang pertama Ajang Cipta Lagu Anak (Acila) yang berlangsung pada 14 Mei. Pemenang lain dari lomba cipta lagu yang digagas penyanyi Tika Bisono itu adalah ”Menjadi Penerang” karya Irfan Mohammad Noer sebagai juara 2, ”Tersenyumlah” (Irfan Noor, juara 3), ”Kau Istimewa” (Ita Susanto, harapan 1),

”Tak Lagi Kecil” (Rendy Puja Utama, harapan 2 ), dan ”Ibu” (Ate M, harapan 3). Acila juga memberi penghargaan khusus untuk finalis termuda kepada

Alma Raihannah (11) lewat lagu ”Kupu-Kupu”. Cukup variatif dari sisi tema lagu, mulai dari persahabatan, optimisme, cinta lingkungan, cinta orangtua, dan cinta Tanah Air.

Acila menyumbang perbendaharaan lagu anak yang belakangan dikeluhkan sejumlah kalangan. Tak kurang dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar menyatakan keprihatinan akan kurang populernya lagu anak yang baik. Linda Gumelar, yang membuka Acila, mengatakan, anak-anak sejak usia dini perlu mendapat asupan lagu yang mampu menumbuhkan rasa saling berbagi, gotong royong, cinta lingkungan, dan cinta Tanah Air.

Tika Bisono, psikolog, pemerhati anak itu, menjawab kebutuhan lagu anak lewat Acila. ”Kita kekurangan lagu yang bisa dinyanyikan anak-anak. Ribuan lagu anak kalah dengan lagu orang dewasa. Anak-anak kita menyanyikan lagu orang dewasa yang tak sesuai dengan perkembangan usia mereka,” ujar Tika.

Album lagu anak

Lagu anak sebenarnya boleh dikata cukup tersedia dalam bentuk rekaman. Perusahaan rekaman Cakrawala Musik Nusantara (CMN), misalnya, telah menerbitkan empat album seri Koleksi Abadi: Lagu Taman Kanak-kanak dengan musik garapan Kak Nunuk. Volume 4 dari seri tersebut rencananya akan dirilis pada Minggu (12/6) pagi ini di area car free day, Jalan Thamrin, Jakarta.

Setiap seri album memuat lagu anak dari masa ke masa plus sejumlah lagu baru. Pada album Volume 4 ini misalnya tersaji lagu ”Tek Otek” dan ”Kepala Pundak Lutut Kaki.” Lagu yang belum diketahui penggubahnya itu menjadi nyanyian anak setidaknya sejak awal 1960-an. Kemudian lagu karya AT Mahmud (1970-an).

Ada juga lagu indah karya Cornel Simanjuntak, ”Bungaku” (1950-an). Sebagai pengingat kita kutip lirik lagu seluruhnya, ”Waktu menyingsing fajar/ Pagi sunyi senyap/ Matahari bersinar/ Mengganti malam g’lap/ Nampak Sekuntum bunga/ Di muka rumahku/ Kepala mas juwita/ Daunnya beledu....”

Album juga memuat lagu anak era akhir 1980-an, yaitu ”Abang Tukang Baso” yang dulu dipopulerkan Melisa. Lirik lagu sedikit direvisi. ”Kami minta izin kepada Mamo Agil (pencipta lagu ini) untuk mengubah syair ”juga tidak pakai kol” menjadi ”tapi minta pakai kol” tujuannya supaya anak-anak mau makan sayur,” kata Sufeni Susilo, Marketing Manager PT Gema Nada Pertiwi yang menaungi CMN.

Dalam pemilihan lagu, Sufeni mempertimbangkan unsur edukasi dan menghindari unsur konsumtivisme dan kekerasan (bullying). Lagu yang berkait dengan olok-olok kondisi fisik, dikhawatirkan Sufeni bisa berpotensi menjadi bahan ejekan anak-anak.

Satu lagu baru yang disodorkan album Koleksi Abadi ini adalah lagu ”Naik Odong-odong”. Sekadar info, odong-odong adalah media hiburan anak-anak yang disuguhkan keliling kampung. Anak-anak naik permainan berupa mobil, pesawat, atau binatang yang digerakkan abang-abang dengan cara dikayuh dengan diiringi lagu anak seperti disebut dalam lagu. ”Tukang Odong-odong kerjanya mengayuh/ Sambil putar musik yang enak didengar/ Kalau ngantuk odong pun berhenti berputar....”

Di tengah gemuruhnya lagu dalam industri musik saat ini, lagu anak memang perlu kreatif agar sampai ke telinga pendengarnya. Mereka harus bersaing dengan lagu-lagu dari bintang pop, seperti Justin Bieber yang digemari anak-anak.

”Sebenarnya kalau banyak media yang mau putarkan (lagu anak), anak-anak juga bisa suka,” kata Sufeni.

Radio di Jakarta, seperti Bahana 101,8 FM, Woman Radio, dan Female Radio mempunyai program lagu anak. Pihak lain yang dianggap banyak berjasa memasyarakatkan lagu anak saat ini adalah para abang-abang pengayuh odong-odong. Setiap kali keliling kampung, mereka selalu memutar lagu anak. Hidup odong-odong!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau