TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Komunitas pengguna kereta rel listrik (KRL) di kawasan Serpong menolak pemberlakuan tarif tunggal pada awal Juli 2011. Mereka menilai harga tunggal untuk KRL lintas Serpong tidak sesuai dengan kualitas layanan yang diberikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ).
Dalam pernyataan sikapnya, KRL Mania Lintas Serpong mengatakan, rencana pemberlakuan tarif dan operasi tunggal mulai 2 Juli 2011 itu dinilai tidak adil. Commuter line yang akan berhenti di setiap stasiun untuk rute Bogor-Jakarta dengan jarak 50 km dikenai tarif Rp 9.000. Tarif ini mengalami penurunan Rp 2.000 dari tarif sebelumnya, yakni Rp 11.000. Adapun kereta commuter rute Serpong-Jakarta dengan jarak 25 km dikenai tarif Rp 8.000, sama dengan harga sebelumnya.
"Apakah tidak ada pertimbangan mengenai penentuan tarif? Jikalau mau dihitung dengan jarak, merupakan suatu yang tidak fair untuk Lintas Serpong," tulis anggota KRL Mania Lintas Serpong, Martha Risca, melalui surat elektronik kepada Kompas.com, Minggu (12/6/2011).
Hasil jajak pendapat yang dilakukan KRL Mania Lintas Serpong terhadap 243 responden pengguna KRL lintas Serpong menunjukkan bahwa rata-rata responden memilih tarif sebesar Rp 5.289 untuk KRL AC dan Rp 1.952 untuk KRL non AC. Responden mengharapkan agar tarif baru nantinya mendekati tarif KRL AC Ekonomi Lintas Serpong-Manggarai sebesar Rp 5.500.
Meski menolak pemberlakuan tarif tunggal sebagaimana ditetapkan PT KCJ, KRL Mania Lintas Serpong mendukung diberlakukannya sistem operasi tunggal KRL. Dengan kebijakan tersebut, nantinya KRL harus berhenti di setiap stasiun sehingga tidak ada lagi KRL Ekspres. Mereka menilai selama ini KRL Ekspres juga kerap berhenti di setiap stasiun sehingga waktu tempuhnya hampir sama dengan KRL Ekonomi AC bertarif Rp 4.500 atau KRL Ekonomi dengan tarif Rp 1.500.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang