Tanah air

Kearifan Lokal Dayak dalam Sebatang Sipet ...

Kompas.com - 13/06/2011, 11:33 WIB

Oleh Defri Werdiono dan Dwi Bayu Radius

   Manyipet atau menyumpit bagi masyarakat Dayak adalah kebanggaan karena dulu para lelaki bisa mendapatkan lauk bagi keluarga dari berburu hewan di hutan. Sekarang manyipet masih dilakukan para lelaki dan sebagian perempuan, tetapi hanya untuk sambilan ketika pergi ke ladang.

   Undong (60), warga Desa Sungai Lunuk, Kecamatan Tanah Siang, Murung Raya, Kalimantan Tengah, masih ingat betul waktu beranjak remaja dulu ia sering diajak ayahnya berburu. Hasil buruan itu dijadikan lauk buat santapan keluarga.

   Sampai sekarang ia juga masih sering menyumpit walau tidak benar-benar untuk berburu. Bersama perlengkapan ke ladang lain, sumpit tetap dibawa, tetapi hanya dipakai kalau kebetulan melihat burung, rusa, babi, tupai, atau binatang lain. Sebab, binatang hasil buruan kini bukanlah yang utama untuk konsumsi keluarga. Selain karena hutan makin berkurang akibat terdesak pertambangan dan perkebunan besar, atau tinggal tersisa semak belukar setelah ditinggalkan para pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), aneka barang kebutuhan sudah tersedia di warung-warung desa. Lauk tidak lagi mengandalkan hasil buruan dan ikan segar dari sungai, tetapi bisa dibeli dan jenisnya beragam. Tahu, tempe, ikan asin, daging, telur, dan mi instan dengan mudah didapat.

   Kalaupun masih ada kelompok masyarakat yang berburu, mereka tidak semata-mata mencari lauk. Untuk itu, mereka harus berjalan kaki masuk hutan yang kini makin jauh lokasinya dari perkampungan.

Beracun dan mematikan

   Sumpit sebagai senjata sebenarnya ada di banyak daerah, bahkan sejumlah negara. Dalam buku Sumpitan Koleksi Museum Kalteng, Proyek Pengembangan Permuseuman Kalteng Tahun 1980-1981 disebutkan, Robert FG Spier dari Universitas Missouri menyatakan, beberapa suku primitif di Amerika Tengah, Amerika Selatan, Filipina, dan Asia Tenggara lain menggunakan senjata tiup (blowgun) untuk berburu.

   Dalam buku Borneo 1843 terbitan Bentara Budaya Yogyakarta tahun 2010 disebutkan hasil penelitian Dr CALM Schwaner asal Belanda di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan tentang kehidupan masyarakat di Sungai Kahayan dan Barito.

    Penelitian Dr CALM Schwaner dalam Beschruving van Het Stroomgebied van Den Barito jilid 1 dan 2 itu, seperti dikutip Borneo 1843, memuat gambar litografi karya CW Mieling, antara lain beberapa orang Dayak di pinggir perkampungan yang memegang sumpit.

    Mengenai asal muasal penggunaan sumpit, buku Sumpitan Koleksi Museum Kalteng menyebutkan beberapa versi, antara lain seorang pandai besi mendapati bambu (puputan) yang dipakai meniup api tersumbat. Ia kemudian meniupnya sekuat tenaga sehingga sumbatannya terlempar keluar.

    Ada juga kisah peniup seruling (serunai) yang lubangnya tersumbat dan kemudian dia meniupnya. Ada yang menuturkan sumpit hasil kreasi pemburu saat melihat buaya menyemprotkan air ke monyet.

    Dari mana pun asal dan bagaimana muasal penggunaannya, sumpit sudah sangat lama menjadi senjata Dayak.

    Untuk kepentingan berburu, ujung anak sumpit (damek) yang lancip itu biasa direndam dalam racun dari getah tumbuhan ipu atau siren yang sangat mematikan. Binatang buruan yang tertancap di ujung damek dipastikan akan mati dalam waktu 30 detik hingga 3 menit. Bagian daging di sekitar damek menancap akan berwarna biru dan harus dibuang karena berbahaya jika termakan manusia.

    Karena begitu mematikan, ditambah lagi dengan cara penggunaannya yang hanya berbunyi ”sett..., dup”, tentara Belanda dulu diberitakan sangat takut menghadapi sumpit Dayak dibandingkan dengan senjata api. Peluru yang bersarang di dalam tubuh bisa dioperasi, luka bekas tembakan bisa disembuhkan, tetapi terkena anak sumpit beracun bisa dipastikan mati.

    Karena begitu mematikannya anak sumpit beracun itu, di masyarakat Dayak terdapat juga pantangan menggunakan damek beracun untuk menyumpit manusia. Sekali damek mengenai manusia, dikatakan bahwa damek yang tersisa akan kehilangan ”kesaktiannya”. Itulah kearifan lokal agar manusia tak saling bunuh.

    Kearifan lokal juga tecermin dari filosofi pembuatan sumpit yang butuh ketelatenan dan kesabaran untuk mengebor (membuat lubang berdiameter sekitar 1 sentimeter dengan panjang 1,2-2 meter di dalam batang kayu ulin yang keras itu selama berbulan-bulan. ”Berpikir harus lurus,” kata budayawan Dayak, Syaer Sua U Rangka (59), yang pernah menjadi pelatih menyumpit di Kostrad pada 2001.

Dilombakan

    Bersama sejumlah budaya dan seni tradisi lain suku Dayak, manyipet kini mulai pudar. Untuk itulah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencoba melestarikan aneka budaya dan tradisi Dayak melalui pergelaran tahunan Festival Budaya Dayak ”Isen Mulang” yang untuk tahun ini digelar pertengahan Mei lalu.

    Melalui festival yang selalu digelar di ibu kota provinsi, Palangkaraya, dan diikuti peserta dari semua kabupaten ini setidaknya masyarakat Dayak yang kini tinggal di perkotaan diingatkan kembali pada budaya dan tradisi asli mereka.

    Dalam festival itu manyipet dilombakan untuk kategori putra dan putri. Sasarannya tentu saja bukan lagi binatang hidup yang bergerak-gerak, melainkan boneka yang dibalut busa dengan lingkaran-lingkaran bernilai yang digantung di pohon.

   ”Kada (tidak) bisa,” kata seorang peserta putri dari Barito Timur ketika ditanya apakah bisa menyumpit binatang yang bergerak. (m suprihadi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau