Iguvecci, Selasa
Langkah militer bertujuan menekan demonstran anti-rezim dan mencegah pengungsian eksodus warga. Gelombang pengungsian ke Turki dan Lebanon terus meningkat dan sudah lebih dari 10.000 orang. Diperkirakan pengungsi akan terus bertambah seiring dengan makin kerasnya tindakan pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad.
Tindakan represif berlangsung di Maaret al-Numan, kota di perbatasan dengan Irak. Aktivis HAM Suriah, Mustafa Osso, mengatakan, tank-tank dikerahkan ke Deir el-Zour, dekat perbatasan dengan Irak.
Hal serupa juga terjadi di desa-desa dekat Jisr al-Shughour, kota ajang demonstrasi besar-besaran. Namun, sejak Minggu kota direbut lagi oleh pasukan elite Suriah.
Gelombang unjuk rasa menentang penguasa otokratik sejak beberapa minggu lalu ini dinilai pemerintah sudah keterlaluan. Pemerintah menuduh aksi itu digerakkan oleh kelompok yang dicap sebagai ”pemberontak”.
Rezim Suriah mengatakan telah berhasil menggagalkan upaya penyelundupan senjata melalui wilayah perbatasan.
Beberapa analis menuturkan, Assad berusaha mencegah oposisi mendirikan basis perjuangan, seperti yang terjadi di Libya. Di negaranya Moammar Khadafy ini, oposisi berhasil membangun basis perjuangan di Benghazi.
Para aktivis mengatakan, akibat represi rezim lebih dari 1.400 orang telah tewas dan 10.000 orang ditahan. Menurut juru bicara PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Stephanie Bunker, ada 5.000 orang yang lari ke Lebanon dan 5.000 orang ke Turki. Kantor berita Turki, Anatolia, sehari sebelumnya bahkan menyebutkan lebih dari 6.000 warga Suriah menyeberang ke Turki.
Dari seberang warga Suriah melukiskan tanah air mereka sebagai negeri paling berbahaya dan menakutkan saat ini. Mohammad Hesnawi (26), asal Jisr al-Shughour, salah satu yang bertutur tentang itu.
Konflik telah menyulitkan pasokan pangan. ”Penduduk Al Hasaniya hanya makan buah-buahan, termasuk apel dan ceri,” kata Hesnawi. Dia menambahkan, buah-buahan pun sangat tidak cukup untuk warga. Karena itu, banyak orang yang kini menderita kelaparan di Suriah.
Hesnawi menuding milisi propemerintah, Shabila, telah menghancurkan rumah-rumah warga di kota asalnya di Jisr al-Shughour. ”Mereka merusak rumah dan bangunan apa saja, bahkan membunuh binatang, menebang pohon, dan membakar lahan pertanian,” katanya sambil mengatakan, hanya akan pulang ke Suriah jika Assad tidak berkuasa.
Pengemudi traktor, Abu Achmed (55), tinggal 5 kilometer di utara Jisr al-Shughour. Dia mengungsi karena Shabila sangat kejam. Dari Guvecci, Turki, ia mengatakan, ”Tank tiba di desa dan menembak dengan membabi buta. Kami pun kabur lari.”
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh rezim Assad telah melakukan tindakan kejam terhadap warganya sendiri. Meski demikian, dia juga mengatakan akan mendekati pemimpin Suriah itu untuk membantu menyelesaikan krisis.
Turki memprioritaskan wanita dan anak-anak Suriah memasuki wilayahnya.(AP/AFP/REUTERS/CAL)