Kasus pembunuhan

AS Kepruk Yuyun dengan Cobek Batu

Kompas.com - 15/06/2011, 15:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Yuyun Wahyuni (23) diduga dihabisi oleh AS (20)lantaran mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta itu memergoki aksi AS.

Kepala Polisi Sektor Komisaris Besar Gatot Edy Pramono, Rabu (15/6/2011), menjelaskan, karyawan air isi ulang yang tinggal di seberang rumah Yuyun Wahyuni itu diduga membunuh lantaran tepergok mencuri laptop dan telepon genggam, karena korban dan pelaku saling kenal.

"AS masuk ke rumah korban dengan cara mencongkel pintu dengan menggunakan obeng. Karena korban terbangun, korban langsung dibekap dengan bantal. Lalu, tangan dan kaki Yuyun diikat oleh tali plastik yang sudah dipersiapkan pelaku sebelumnya," ujar Gatot saat ditemui wartawan di kantor Polisi Sektor Metro Pamulang pada Rabu pukul 01.00 WIB.

Gatot mengatakan, pelaku memukul korban dengan cobek karena merasa belum yakin kalau korban sudah meninggal. "Untuk meyakinkan dirinya kalau korban sudah meninggal, pelaku mengambil cobek yang ada di belakang rumah dan memukulkan cobek batu itu ke arah kepala bagian belakang sebanyak dua kali hingga korban meninggal," ujarnya.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang jeratan pasal pembunuhan berencana karena korban sebelumnya sudah membawa tali, Gatot mengatakan akan menyelidiki lebih lanjut.

"Kami masih mendalami apa maksud pelaku membawa tali, kami akan menyelidiki lebih lanjut apakah ada indikasi melakukan pembunuhan berencana," ujarnya.

Dalam kasus itu, polisi menyita beberapa barang bukti berupa satu buah cobek terbuat dari batu, satu bilah pisau dapur, satu obeng, satu buah pahat kecil, tali rapia dan satu bantal anak berwarna kuning gambar Sponge Bob.

Akibat tindakannya, AS dijerat dengan Pasal 365 jungto 338 KUHP dan kurungan 15 tahun penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yuyun Wahyuni ditemukan tewas terbunuh di dalam kamarnya di Jalan Lele Raya 10, RT 03 RW 05, Kelurahan Bambu Apus, Tangerang Selatan. Mahasiswi tahap akhir UPN Veteran ini ditemukan dengan kondisi kepala bocor dan darah berceceran di dalam kamarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau