Sepak bola

Liga Profesional Bebas APBD

Kompas.com - 16/06/2011, 03:31 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Salah satu kandidat ketua umum PSSI, Erwin Aksa, menegaskan, negara tetap bertanggung jawab untuk mendanai pembinaan sepak bola dalam liga amatir di daerah. Namun, liga profesional seharusnya bebas dari pendanaan daerah.

Hal itu diutarakan Erwin seusai acara ”Silaturahim Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia” di Bandung, Rabu (15/6). ”Untuk pembinaan, untuk liga amatir, dan untuk kompetisi yunior harus tetap melibatkan APBD atau APBN karena itu adalah tanggung jawab pemerintah untuk membangun infrastruktur sepak bola,” kata Erwin.

Namun, ujar Erwin, untuk liga profesional, pendanaan harus independen dan tidak menyusu pada APBD. Dengan pengelolaan seperti itu, manajemen klub harus membuktikan profesionalitasnya dalam mengelola program di klub.

Tunggu KN

Pada kesempatan itu, Erwin meminta semua pihak menunggu Komite Normalisasi (KN) bisa bersepakat dengan Kelompok 78 sebelum kongres PSSI digelar. ”Saya berharap semua pihak duduk bersama dalam pertemuan intensif agar menghasilkan jalan keluar tanpa meninggalkan satu pihak pun,” katanya.

Kongres yang dijadwalkan 9 Juli 2011 di Solo itu diharapkan bisa menyatukan semua pemangku kepentingan sepak bola Indonesia demi kemajuan sepak bola dan kongres berjalan dengan lancar. ”Setiap pemilik suara pasti memilih calon yang dianggap terbaik,” kata Erwin.

Piala Gubernur Aceh

Sementara itu, empat klub asing dan tiga klub nasional memastikan diri ikut serta dalam turnamen sepak bola internasional Piala Gubernur Aceh II yang akan digelar pada 23 Juni-3 Juli 2011. Satu klub lagi, yakni Persiraja Banda Aceh, saat ini masih ditunggu kepastian kesertaannya di ajang ini.

Ketua panitia Piala Gubernur Aceh II, Muhammad Sakdan Abidin, Selasa lalu, mengatakan, empat klub asing itu adalah Burriram FC (Thailand), Kedah FC (Malaysia), Thai Port FC (Thailand), dan Perak FC (Malaysia). Mereka akan bersaing dengan tiga klub dalam negeri, yakni Pelita Jaya Purwakarta, Persiba Bantul Yogyakarta, dan Semen Padang.

”Sebenarnya ada satu tim lagi yang kami undang, yakni Persiraja. Namun, sampai sekarang belum ada kepastian dari Persiraja mengenai keikutsertaannya,” kata Sakdan.

Sebagai tuan rumah, Persiraja diharapkan dapat ikut serta di ajang ini. ”Kami berharap Persiraja bersedia ikut karena turnamen ini juga dapat dijadikan ajang seleksi cikal bakal pemain Persiraja untuk mempersiapkan diri memasuki kasta tertinggi Liga Indonesia,” kata Sakdan.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Umum Persiraja Atqia Abubakar mengungkapkan, Persiraja sudah menerima undangan. Namun, sampai saat ini manajemen belum bisa memastikan ikut turnamen itu karena masalah keuangan. Selain itu, para pemain Persiraja umumnya sudah pulang ke daerah asal masing-masing.

”Karena masalah keuangan tadi, kami sulit untuk membawa kembali pemain yang sudah pulang, apalagi ada yang ke Afrika sana,” kata Atqia.

Ia menambahkan, pengurus Persiraja sangat berharap dapat ikut serta di ajang Piala Gubernur tersebut. Selain dapat dijadikan sebagai ajang persiapan, turnamen itu juga digelar di daerah sendiri sehingga dapat menjadi hiburan bagi para pendukung Persiraja. ”Karena itu, kami sangat membutuhkan bantuan dari pihak lain agar dapat ikut serta di turnamen ini,” ujarnya.(HAN/ELD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau