Sakit Maag Incar Usia Produktif

Kompas.com - 16/06/2011, 16:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gastritis atau penyakit maag merupakan kondisi yang sangat mengganggu aktivitas dan bila tidak ditangani dengan tepat dapat berakibat fatal. Sakit maag, menurut medical executive PT Kalbe Farma dr Helmin Agustina Silalahi, juga paling banyak dialami oleh mereka yang masih dalam usia produktif.

"Dari hasil survei yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) belum lama ini, sekitar 60 persen penduduk Jakarta yang termasuk dalam usia produktif sudah terkena maag," katanya, saat ditemui dalam talkshow "Promag Double Action" di Senayan City, Jakarta, Kamis, (16/6/2011).

Bahkan, kata Helmin, pada anak-anak sendiri sudah ada sekitar 27 persen yang mengidap sakit maag. Helmin menduga, tingginya angka kejadian tersebut lantaran masih banyak masyarakat, khususnya anak-anak muda, yang menganggap sepele keberadaan penyakit maag.

"Bahkan kalau ditanya kamu sakit maag? Dia pasti tidak akan ngaku. Tetapi setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata gejala-gejala yang dialami benar-benar sakit maag," imbuhnya.

Helmin mengungkapkan, masalah kesehatan pada usia muda memang tidak terlalu diperhatikan. Pasalnya, banyak yang berpikir hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan dapat sembuh dengan sendirinya.

"Karena menurut mereka kalau ada gangguan mual-mual, sakit uluh hati enggak apa-apalah, nanti juga hilang," jelasnya.

Padahal, lanjut Helmin, apabila sakit maag dibiarkan berlarut-larut dan tidak ditangani dengan baik, bisa berujung pada kanker lambung."Kalau sudah kanker, sulit untuk disembuhkan," imbuhnya.

Sakit maag, papar Helmin, merupakan kumpulan dari beberapa gejala seperti nyeri di uluh hati, mual, muntah, lemas, perut kembung, dan cepat kenyang. Lebih lanjut Helmin mengatakan, tingkat keasaman (pH) di lambung pada orang sehat umumnya sekitar 4-5 (pH), namun pada penderita sakit maag bisa sampai 1 pH (sangat asam).

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya sakit maag, di antaranya adalah pola makan yang tidak teratur, stres berat, konsumsi alkohol, dan minum kopi berlebihan.

"Kalau sudah kena, banyak pantangannya. Harus hindari makanan yang pedas, asam, bersantan, serat tinggi, dan daging kambing. Karena dapat meningkatkan produksi asam lambung," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau