ISLAMABAD, KAMIS -
Padahal, sosok Fazle-ur-Rahman Khalil, pemimpin kelompok militan Harakat-ul-Mujahedeen, diyakini jauh lebih kuat dan berpengaruh. Bahkan, sampai-sampai Osama sendiri merasa harus berkonsultasi sebelum mengeluarkan fatwa menyerang seluruh kepentingan AS.
Fakta itu disampaikan seorang pejabat senior Pakistan, yang meminta identitasnya dirahasiakan, Kamis (16/6). Belakangan keberadaan Khalil di Islamabad, Pakistan, juga dibenarkan oleh salah seorang pejabat Barat yang bertugas di negeri itu.
Organisasi Khalil dikenal memang dekat dengan Al Qaeda. Kaliber dan sepak terjangnya sendiri sangat terkenal. Khalil-lah yang selama ini mengirim para anggota mereka ke India, Afganistan, Somalia, Chechnya, dan Bosnia.
Otoritas Pakistan disebut-sebut sangat paham keberadaan Khalil selama ini di wilayahnya. Namun, mereka memilih membiarkan dia tidak terganggu.
Hal serupa juga dilakukan Pemerintah Pakistan ketika membiarkan wilayahnya menjadi tempat berlindung kelompok milisi Kashmir, yang oleh militer dan intelijen Pakistan dimanfaatkan untuk menyerang India.
Keberadaan Khalil diyakini sangat berguna bagi Pemerintah Pakistan mengingat akses dan kontaknya yang sangat luas di antara kelompok militan di Pakistan.
Selama ini Pemerintah Pakistan dinilai bermain di ”dua kaki”. Mereka memerangi kelompok militan tertentu dan melindungi kelompok yang lain. Praktik seperti itu diyakini bahkan masih terus dilakukan pasca-kematian Osama oleh serangan militer AS, awal Mei lalu.
Lebih lanjut Kongres AS mengancam akan memotong habis bantuan dana ke Pakistan pasca-kematian Osama, yang belakangan diketahui bersembunyi setidaknya selama lima tahun di kota Abbottabad, Pakistan.
Sepak terjang Khalil dikenal dunia karena dianggap bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap Konsulat AS di Karachi tahun 2002. Dia juga diketahui memiliki hubungan jaringan dengan kelompok Haqqani.
Kedua organisasi, Harakat-ul-Mujahedeen dan Haqqani, dimasukkan ke dalam kategori organisasi teroris oleh AS. Keduanya dipahami membawahi ratusan militan.
Namun, Khalil tidak masuk dalam daftar orang paling dicari milik AS, seperti Osama. Di Pakistan, dia tinggal di sebuah bangunan berlantai dua di kawasan pinggiran Golra Sharif, Islamabad.
Bangunan tempat tinggalnya itu juga difungsikan sebagai sekolah agama.
Saat dihubungi melalui telepon selulernya, Khalil membantah keras selama ini dia punya hubungan dekat dengan Osama sepanjang masa persembunyiannya di Abbottabad.
”Semua (tuduhan) itu 100 persen salah. Benar-benar sampah. Osama tidak pernah punya kontak dengan siapa pun,” ujar Khalil.
Sementara itu, salah seorang pejabat senior Pakistan menyatakan, Khalil sudah dua kali ditangkap, tetapi selalu diminta dilepaskan oleh intelijen Pakistan. (AP/DWA)