Hanya 18 BUMN ke Bursa Saham

Kompas.com - 17/06/2011, 03:32 WIB

Jakarta, Kompas - Otoritas Bursa Efek Indonesia mempertanyakan sebagian besar badan usaha milik negara yang untung, tetapi belum ke bursa. Konglomerasi terbesar adalah BUMN, tetapi baru 18 dari 142 BUMN yang masuk bursa.

”Saat ini konglomerat terbesar tinggal pemerintah dengan 142 BUMN. Ada 17 yang rugi, tetapi 120 sudah untung. Akan tetapi, hanya 18 yang tercatat di bursa. Sejak 1981 atau dalam 20 tahun, hanya 18 BUMN yang go public,” ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, Kamis (16/6), saat berbicara dalam Seminar ”Tantangan Pasar Modal Indonesia Menghadapi Integrasi Pasar Modal ASEAN Melalui Keterbukaan Informasi dan Penetapan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS)”.

Menurut Ito, kondisi itu merupakan paradoks di sisi pemerintah. Sebab, di satu sisi, pemerintah rajin mendorong perusahaan di Indonesia untuk masuk bursa. ”Namun di sisi lain, pemerintah belum maksimal mendorong lebih banyak BUMN ke bursa,” ujarnya.

Kapitalisasi pasar

Ito menyebutkan, untuk menumbuhkan pasar modal Indonesia, pihaknya berupaya agar sisi permintaan (jumlah investor) dan sisi penawaran (jumlah emiten) berkembang beriringan. Itu diharapkan untuk dapat menaikkan kapitalisasi pasar modal yang ditargetkan mencapai 750 miliar dollar AS atau Rp 6.375 triliun pada tahun 2015.

”Pada tahun 2009, kami menargetkan kapitalisasi pasar Rp 3.000 triliun tahun 2012. Naik dari posisi akhir 2008 yang masih di level Rp 1.076 triliun atau naik tiga kali lipat. Tetapi nyatanya, pada akhir 2010, target itu sudah terlampaui yakni Rp 3.400 triliun. Kami harus membuat target baru, yakni menaikkan kapitalisasi pasar dari 360 miliar dollar AS atau Rp 3.060 triliun tahun 2010 menjadi 750 miliar dollar AS tahun 2015,” tuturnya.

Untuk menambah jumlah emiten, BEI menyasar tiga kelompok perusahaan. Pertama, BUMN. Kedua, kelompok perusahaan Indonesia yang bergerak di sektor sumber daya alam. Ketiga, kelompok perusahaan yang mendapatkan kredit perbankan dalam jumlah besar.

Jika jumlah emiten bertambah, hal itu harus diimbangi dengan tambahan investor. BEI menargetkan jumlah investor sebanyak 2,3 juta atau 1 persen dari jumlah penduduk. Ini masih jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang sudah 15 persen dan Singapura 40 persen lebih.

Pengamat pasar modal sekaligus pemilik PT Aspirasi Indonesia Research Institute, Yanuar Rizky, mengingatkan, saat BUMN masuk bursa, langkah tersebut harus dipastikan mengikuti tujuan utama pelepasan saham perdana (IPO), yakni menjadi alat redistribusi. Jangan jadikan IPO BUMN sebagai pembandaran dan penjatahan, lalu dijual ke pembeli siaga yang memang ingin menguasai industri BUMN. (OIN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau