Cerita bersambung Jodhi Yudono
Setelah Onah menutup pintu depan, Ijah keluar dari kamar dengan sebuah buku tua di tangannya.
"Kita ngobrol di sini aja Nak, sambil menunggu bapakmu pulang."
"Buku apa itu, Mak?"
"Ini buku catatan eyang kakung dari pihak bapakmu. Semula eyang ingin mencetak catatan ini menjadi buku dan meminta bapakmu mencari penerbitan di Jakarta yang mau mencetaknya. Tapi bapakmu bilang, penerbit nggak ada yang berani mencetaknya, karena takut berurusan dengan polisi."
"Gawat bener, emang isinya apaan sih Ma?"
"Bacalah sendiri, nanti kamu juga akan tahu."
Di bawah penerangan lampu neon 20 watt, Onah mulai membuka buku catatan dengan nama eyangnya tertulis di sampul muka: "Kardiman: Sebuah Kesaksian Sebuah Perjalanan Bangsa".
* * *
Jakarta sebagai ibukota negara, pada awal tahun 60an merasai juga panasnya amarah Soekarno selaku presiden kala itu yang secara terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan dengan Malaysia, negara tetangga kita terdekat, melalui maklumat yang diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio pada 20 Januari 1963.
Mereka yang mendukung pengumuman tersebut, tentu saja bangkit rasa nasionalismenya. Mereka berbondong-bondong melamar menjadi relawan yang siap diterjunkan ke kancah peperangan. Rasa bangga menyelimuti dada mereka karena memiliki presiden yang pemberani, panglima angkatan perang tertinggi yang tidak kecut menghadapi siapapun.
Itulah sebabnya, presiden pertama republik ini disegani dan menjadi salah satu pemimpin negeri yang terpandang di muka bumi ini. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Pada 27 Juli, Soekarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia".
"Berani bener ya Mak, presiden kita waktu itu."
"Itulah sebabnya bangsa kita disegani oleh bangsa-bangsa lain."
"Gak kayak sekarang ya Mak? Berkali-kali harga diri kita diinjak-injak, kitanya diam aja."
"Hush, sok tahu kamu."
"Emang sih Mak. Onah kan baca internet, TKI kita diperlakukan nggak manusiawi, seni dan budaya kita diklaim, eh.. kita gak berani melabraknya, malah ribut sendiri di sini, dasar jago kandang."
"Ssssttt.. kamu persis bapakmu, asal ngomong, kalau ada yang gak suka kita dikira menyebarkan kebencian."
"Bodo ah, emang gitu kenyataanya. Eh... omong-omong Bung Karno itu kabarnya juga ganteng ya Mak?"
"Kabarnya gitu."
"Mau dong..."
"Genit deh anak Emak."
"Wanita mana yang gak suka sih Mak sama laki-laki kayak Bung Karno, udah ganteng, berkuasa, dan berani pula."
"Iya. Bapakmu tuh suka menirukan ucapan Bung Karno kalau lagi merayu Emak."
"Gimana kata-katanya, Mak?"
"Ini dadaku, mana dadamu?!"
"Ih.. bapak juga genit."
"Udah, lajutin lagi bacanya."
Sebetulnya, konfrontasi Indonesia-Malaysia adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962 hingga 1966.
Bung Karno bilang, dalang dari sengketa ini adalah Inggris yang tetap menginginkan Malaysia sebagai bonekanya di Asia Tenggara. Pada tahun 1961, Inggris yang di belakang Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 ingin menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg.
Oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.
Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia.
"Ah, pusing Mak. Onah kan cuma perlu tahu, kenapa dua kakek kita itu berseteru."
"Sabar, biar kamu tahu persis duduk perkaranya."
"Iya deh."
Kala itu situasi Jakarta dan Malaysia benar-benar gerah. Api ketegangan mulai membakari kedua bangsa serumpun. Kapal-kapal mulai ketakutan mengarungi Selat Malaka yang terkena imbas dari permushan itu. Tak lama kemudian kedutaan Britania di Jakarta dibakar. Beberapa ratus perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan massa menyerang kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.
Di Malaysia terjadi demonstrasi mengutuk Soekarno dengan menginjak lambang negara RI. Tentu saja, demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia itu membuat murka Soekarno.
Lalu Soekarno pun membalas penghinaan itu dengan jargon, "Ganyang Malaysia" melalui pidatonya yang terkenal itu:
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malaysian itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini, kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo...ayoo... kita... Ganyang... Ganyang... Malaysia Ganyang... Malaysia
Bulatkan tekad Semangat kita, baja Peluru kita banyak, Nyawa kita banyak.
Bila perlu satu-satu!
Tiba-tiba Onah bertepuk tangan.
"Seru.. seru, nah gini mestinya jadi seorang pemimpin. Berani dan tegas."
"Tapi berani dan ketegasan juga musti disertai pemikiran yang panjang."
"Maksud emak?"
"Kata Eyang Kadir, kondisi perekonomian di dalam negeri Indonesia sendiri sedang kocar-kacir, ditambah konflik dengan Malaysia yang membutuhkan biaya banyak, maka hidup pun makin susah waktu itu."
"Tapi kita kan bangga jadi warga nggak ada yang berani menghina. Kalau ada yang menghina langsung kita tonjok."
"Tapi kan jadi susah cari makan."
"Ih, Emak bela kakek Kadir terus deh, mentang-mentang ayahnya."
"Nah, beginilah bangsa kita dulu Nak. Ada yang pro dan yang kontra dengan kebijakan Presiden Soekarno. Kata kakek Kardiman, suasana Jakarta dan beberapa tempat di negeri kita ikut tegang. Mereka yang pro dengan kebijakan Sokarno berada di dalam satu kubu, sedang yang kontra memilih berada di kubu lainnya. Teruskan membacanya, Nak, Emak ikut mendengarkan."
* * *
Kehidupan di masyarakat jadi berkeping-keping. Politik jadi panglima, segala hal selalu berujung pada politik, termasuk kehidupan para seniman dan budayawan. Mereka yang biasa berkutat dengan keindahan dan peradaban, akhirnya harus pula disibukkan dengan bagaimana beroleh kekuasaan, bagaimana menghimpun massa, dan bagaimana bersiasat serta adu taktik agar golongannya berjaya sementara lawannya tak berkutik.
Mereka yang semula bersatu di bawah bendera "seniman", tiba-tiba terbelah ke dalam dua barisan. Mereka yang menganut faham "seni untuk seni" membuat bendera Manifestasi Kebudayaan atau Manikebu. Sementara mereka yang memiliki faham "Seni untuk Rakyat", berhimpun ke dalam sebuah lembaga yang disebut Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat.
Adalah Kadir dan saya Kardiman, dua sahabat yang sama-sama mengembara ke Jakarta dari Surabaya, untuk menjadi seniman hebat. Kadir ingin menjadi pelukis tenar, sedang saya menjadi penulis kampiun di ibukota. Tiba-tiba kami harus berhadap-hadapan penuh dengan kebencian. Kami yang dari Surabaya semula adalah saudara senasib sepenanggungan, oleh pilihan kami masing-masing, akhirnya kami berseteru.
Di stasiun Senen kami tiba bersama, bersepakat untuk menjadi saudara sepanjang masa. Tapi di stasiun Senen pula kami harus berpisah, bukan lagi sebagai saudara, tapi sebagai dua manusia yang saling bersengketa.
* * *
Maklumat: Teman-teman yang berminat ngobrol soal kepenulisan, bisa berhimpun di akun "Keluarga Paijo" facebook.com, email paijofamily@yahoo.co.id
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang