Kasus contek massal

Arist: Kok Bisa Menteri "Nyalahin" Anak?

Kompas.com - 17/06/2011, 12:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Jenderal Komisi  Perlindungan Anak Indonesia  Arist Merdeka Sirait mengaku sangat menyayangkan pernyataan Menteri Pendidikan Nasional  atau Mendiknas beberapa hari lalu yang mengatakan tidak ada contek massal di SD Gadel.

"Kok bisa seorang menteri nyalahin anak, mengatakan di SD Hadel tak ada contek massal. Ini berarti sama dengan menyalahkan anak yang melaporkan. Untuk itulah, saya ngotot mau bertemu dengan beliau (Mendiknas) karena khawatir anak-anak akan menjadi plagiator. Koruptor yang sekarang ini mungkin saja dulu kerjaannya nyontek," ujar Arist kepada Kompas.com sesaat sebelum bertemu Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal, Jumat (17/6/2011) di Jakarta.

Hari ini, Komisi  Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kembali memperjuangkan kasus contek massal yang terjadi di SD 06 Petang Pesanggrahan dengan mendatangi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas). Selain meminta Kemdiknas yang diwakili oleh Wamendiknas untuk mengevaluasi ujian nasional (UN), kedatangan KPAI juga bertujuan meminta dibentuknya tim independen untuk menginvestigasi kasus contek massal di SD II Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur.

"Apa iya mau cari 100 persen untuk membuktikan adanya contek massal. Satu persen pun itu sudah contek massal. Maksud saya, akui saja bahwa UN ini ada kebocoran dan harus diperbaiki," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau