China Makin Galak

Kompas.com - 18/06/2011, 03:36 WIB

HANOI, JUMAT - Seolah menjadi pemilik wilayah yang sah, sebuah kapal milik China merampas dan menyita ikan tangkapan serta perlengkapan milik nelayan Vietnam. Insiden itu terjadi hari Selasa (14/6) di dekat Kepulauan Paracel, Laut China Selatan.

Salah seorang juru bicara komunitas nelayan di Pulau Ly Son, Vietnam, asal para nelayan, mengonfimasikan kejadian itu, sebagaimana diwartakan harian Thanh Nien. ”Para nelayan menceritakan kejadian itu saat kembali dari laut, Kamis. Mereka mengingat kapal China tersebut dipersenjatai,” kata jubir itu.

Akibat insiden tersebut, para nelayan kehilangan 500 kilogram ikan tangkapan. Dengan sejumlah peralatan nelayan yang ikut disita, kerugian diperkirakan mencapai 2.600 dollar AS.

Hubungan kedua negara belakangan ini memanas karena klaim sepihak China atas wilayah itu. China juga bermasalah dengan sejumlah negara lain, yakni Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Taiwan, soal wilayah itu.

Seiring dengan meningkatnya kekuatan perekonomian, China semakin agresif mengklaim wilayah teritorialnya walau berbenturan dengan sejumlah negara tetangga, seperti terjadi di perairan Laut China Selatan ini.

Agresivitas China juga tampak saat Beijing menyatakan akan memperkuat armada perang angkatan laut. Diproyeksikan hingga tahun 2015 China akan menggelar sedikitnya 350 kapal patroli maritim dan 16 pesawat tempur. Sementara hingga tahun 2020 jumlah kapal perang yang akan dikerahkan meningkat menjadi 520 unit.

Hari Kamis, China menyebutkan, rencana pemberangkatan kapal patroli terbesar, yang mereka miliki saat ini, bertujuan melayari dan ”memantau” perairan Laut China Selatan sembari melaju menuju Singapura.

Langkah seperti itu dikhawatirkan memperbesar potensi benturan antarnegara pengklaim, terutama antara Vietnam dan China. Namun, China pekan ini menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menyelesaikan sengketa wilayah.

Pada Senin lalu Vietnam juga sudah memulai latihan perang dengan amunisi hidup di perairan tersebut. China marah dengan latihan perang itu.

Kerahkan Rajah Humabon

Menanggapi rencana China itu, Filipina tidak mau kalah. Dengan hanya ”bermodal” kapal perang tua, yang pernah dipakai armada perang laut AS melawan kapal selam Jerman pada Perang Dunia II, Filipina mengumumkan rencana menggelar kekuatan di perairan sengketa.

Kapal perang BRP Rajah Humabon adalah kapal perang terbesar yang dimiliki Filipina. Diduga, upaya itu sengaja dilakukan demi ”menyambut” kapal perang China, Haixun 31. Kapal ini disebut-sebut sebagai kapal patroli terbesar Angkatan Laut China saat ini.

Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Filipina, Eduardo Batac, Rajah Humabon saat ini tengah berpatroli di sekitar Dangkalan (shoal) Scarborough di wilayah perairan yang diklaim China.

”Namun, pengerahan Rajah Humabon ini jangan diartikan atau dikaitkan dengan kehadiran kapal patroli China. Kami hanya menggelar patroli laut rutin,” ujar Batac.

Dalam jumpa pers di Jakarta, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Michael Tene, menyatakan, Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun ini terus berupaya mendorong penyelesaian sengketa secara damai antarnegara pengklaim.

”Saya kira Indonesia tidak bersikap pasif. Sejak awal Indonesia sebagai Ketua ASEAN selalu mendorong penuntasan kode etik di perairan Laut China Selatan bagi negara-negara terkait,” ujar Tene.

Tene menambahkan, persoalan sengketa wilayah di Laut China Selatan sudah terjadi sejak lama. Untuk menyelesaikannya diperlukan waktu yang tidak singkat.

Tene yakin semua pihak yang terlibat tidak akan mengembangkan persoalan dan membawa kawasan ke dalam konflik yang mengganggu kepentingan berbagai negara.(AFP/AP/REUTERS/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau