Pameran

Museum Negeri Papua Andalkan Uang Kuno

Kompas.com - 19/06/2011, 00:40 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com - Museum Negeri Provinsi Papua akan menggelar pameran khusus  koleksi numismatika (mata uang) dan heraldika (tanda jasa atau lambang) pada 21 hingga 27 Juni mendatang. Mata Uang kuno dari tahun 1704 pun bakal dipamerkan kepada publik. "Uang dan tanda jasa yang akan dipamerkan, pernah beredar pada masa kolonial Irian Barat dan Indonesia. Jumlahnya mungkin kurang lebih mencapai 400 buah," jelas Yakomina Rumbiak, Kepala Seksi Bimbingan Edukatif Kultural,  Sabtu (18/6/2011).

Yakomina menjelaskan  merupakan tugas museum untuk menyelamatkan dan merawat koleksi-koleksi tersebut. "Lewat publikasi pameran memberikan kesempatan kepada masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa untuk menyaksikan seluruh benda-benda yang dipamerkan," katanya.

Mantan kepala Museum, Paul Yoam, menjelaskan mata uang pernah beredar di Papua adalah mata uang gulden Belanda, mata uang Spanyol, mata uang Inggris, mata uang Jepang, dan sebagainya. "Pada zaman itu, masyarakat kita belum mengenal uang. Jadi uang digunakan pendatang untuk alat barter. Kita memberikan yang ada di lingkungan seperti tanah atau babi," urainya.

Paul melanjutkan ada empat cara pengadaan mata uang. Pertama, museum akan mensurvei tempat mata uang tersebar. "Kemudian, satu tahun kemudian, kami membelinya. Kita juga lihat umurnya sudah lebih dari 50 tahun apa tidak," jelasnya.

Kedua, dengan cara mengganti rugi. "Ada juga mata uang yang kami dapatkan lewat hibah, titipan, dan sitaan," sambungnya.

Adapun heraldika, dijelaskan Paul, dibagi dua yakni tanda jasa tradisional dan tanda jasa peninggalan sejarah. Yang tergolong tanda jasa tradisional adalah anting-anting, topi atau makhota berhias burung, taring babi dan taring buaya, gelang, dan batu penusuk hidung.

Sementara tanda jasa yang dimaksud peninggalan sejarah seperti gom, medali, surat-surat berharga, dan cap atau stempel. "Saya berharap lewat pameran khusus nanti bisa menggugah perasaan pengunjung. Mencintai budaya berarti mencinta dirinya sendiri. Soalnya, orang membuat sebuah benda keluar dari filosifis dirinya sendiri," jelasnya.

Museum Negeri Provinsi Papua sendiri telah dirintis sejak 1981. Salah satu tugas dan fungsi museum ini adalah sebagai lembaga pendidikan dan studi wawasan budaya bangsa, serta pusat informasi yang bersifat edukatif. Saat ini, museum memiliki 3.619 koleksi yang terdiri atas koleksi prasejarah, arkeologi, etnografi, seni rupa, numismatika-heraldika, keramologika, geologi, biologi, dan relik sejarah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau