PALEMBANG, KOMPAS -
Hindra menderita luka bakar ringan di bagian perut dan segera dilarikan ke rumah sakit.
Paket, yang ditujukan kepada Hindra, berisi dua rangkaian bom. Salah satu rangkaian bom meledak saat paket dibuka sekitar pukul 09.00. Adapun satu rangkaian bom yang tak sempat meledak bisa dijinakkan satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel).
Paket berukuran 15 x 20 sentimeter (cm) itu sebenarnya telah diantar sebuah mobil sejak Jumat pukul 17.25. Karena Hindra tak berada di SM Swalayan, kiriman paket disimpan dan baru diberikan ketika Hindra berada di toko Sabtu pagi.
Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Komisaris Besar Sabaruddin Ginting mengatakan, ledakan bom ini merupakan yang pertama terjadi di Sumsel. Dua rangkaian bom tersebut dikemas dalam pipa paralon. Belum diketahui kesamaan rakitan bom dengan bom-bom lain yang pernah ditemukan di daerah lain. ”Tipe bom akan kami bandingkan dengan tipe-tipe bom lain untuk identifikasi,” katanya.
Dari rekaman CCTV yang terdapat di SM Swalayan diketahui, paket bom diantar menggunakan jasa travel Palembang-Lubuk Linggau dengan mobil Avanza. Tiga orang diidentifikasi, yaitu pemilik mobil, sopir, dan pengantar paket. Saat berita ditulis, ketiganya tengah dimintai keterangan di Kantor Polresta Lubuk Linggau.
Sejauh ini, pihak kepolisian belum bisa memastikan motif pengiriman bom. Namun, dari sejumlah keterangan para saksi, pengiriman paket bom ini sementara ini diduga pemicunya adalah masalah pribadi.
Wakil Wali Kota Lubuk Linggau SN Prana Putra Sohe mengatakan, korban dikenal sebagai pengusaha dan tokoh pemuda Tionghoa di Lubuk Linggau. Sejauh ini, tidak pernah ada kejadian yang mengarah tindak
Prana menduga pelaku adalah orang dari luar Lubuk Linggau sebab keterampilan merakit bom membutuhkan pendidikan khusus yang selama ini tidak ditemukan pada masyarakat Lubuk Linggau.