Pemilik Toko Swalayan Jadi Korban

Kompas.com - 19/06/2011, 03:31 WIB

PALEMBANG, KOMPAS - Ledakan paket bom berkekuatan rendah di SM Swalayan, Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Sabtu (18/6), melukai Hindra Sumarjono, pemilik toko swalayan itu. Motif teror bom rakitan masih diselidiki polisi.

Hindra menderita luka bakar ringan di bagian perut dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Paket, yang ditujukan kepada Hindra, berisi dua rangkaian bom. Salah satu rangkaian bom meledak saat paket dibuka sekitar pukul 09.00. Adapun satu rangkaian bom yang tak sempat meledak bisa dijinakkan satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel).

Paket berukuran 15 x 20 sentimeter (cm) itu sebenarnya telah diantar sebuah mobil sejak Jumat pukul 17.25. Karena Hindra tak berada di SM Swalayan, kiriman paket disimpan dan baru diberikan ketika Hindra berada di toko Sabtu pagi.

Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Komisaris Besar Sabaruddin Ginting mengatakan, ledakan bom ini merupakan yang pertama terjadi di Sumsel. Dua rangkaian bom tersebut dikemas dalam pipa paralon. Belum diketahui kesamaan rakitan bom dengan bom-bom lain yang pernah ditemukan di daerah lain. ”Tipe bom akan kami bandingkan dengan tipe-tipe bom lain untuk identifikasi,” katanya.

Paket kiriman ”travel”

Dari rekaman CCTV yang terdapat di SM Swalayan diketahui, paket bom diantar menggunakan jasa travel Palembang-Lubuk Linggau dengan mobil Avanza. Tiga orang diidentifikasi, yaitu pemilik mobil, sopir, dan pengantar paket. Saat berita ditulis, ketiganya tengah dimintai keterangan di Kantor Polresta Lubuk Linggau.

Sejauh ini, pihak kepolisian belum bisa memastikan motif pengiriman bom. Namun, dari sejumlah keterangan para saksi, pengiriman paket bom ini sementara ini diduga pemicunya adalah masalah pribadi.

Wakil Wali Kota Lubuk Linggau SN Prana Putra Sohe mengatakan, korban dikenal sebagai pengusaha dan tokoh pemuda Tionghoa di Lubuk Linggau. Sejauh ini, tidak pernah ada kejadian yang mengarah tindak terorisme ataupun gerakan radikal di Lubuk Linggau. 

Prana menduga pelaku adalah orang dari luar Lubuk Linggau sebab keterampilan merakit bom membutuhkan pendidikan khusus yang selama ini tidak ditemukan pada masyarakat Lubuk Linggau. (IRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau