Dokter gigi

Bor Gigi Ala Indonesia Ini, Ful Musik

Kompas.com - 19/06/2011, 07:19 WIB

ATHENA, KOMPAS.com - Seorang dokter gigi dari RS Dr Sarjito Jogjakarta, drg Dhanni Gustana memperlihatkan bor gigi yang dilengkapi musik sehingga bisa memperdengarkan musik guna mengurangi atau menghilangkan rasa takut pasien terutama anak-anak saat operasi.

Dokter gigi Dhanni Gustana menyampaikan penemuannya itu dalam presentasi "The Singing Dental Drill And The Finger Dental Drill, An innovative approach in dealing with dental anxiety" pada International Association of Paediatric Dentistry 23rd Congress (IAPD2011) di Yunani baru-baru ini.

Kongres yang digelar di gedung Megaron Athens International Conference Centre,Yunani dari tanggal 15 itu diprakarsai The International Association of Paediatric Dentistry (IAPD), organisasi dunia yang mendedikasikan diri terhadap promosi kesehatan gigi untuk anak, dewasa dan pasien dengan kebutuhan khusus.

Sekretaris Satu KBRI Athena,Yunani, Jani Mediawati Sasanti kepada Antara, Minggu (19/6/2011) menyebutkan, kongres yang dilaksanakan secara rutin setiap dua tahun ini bertema "Interdisciplinary Approach to Paediatric Dentistry".

Jani Mediawati Sasanti menjelaskan hasil kongres diharapkan dapat menunjukkan betapa pentingnya kerja sama berbagai ahli dari disiplin ilmu kesehatan lainnya untuk menunjang kesehatan anak.

Kongres diikuti oleh 1600 peserta, mewakili 79 negara, antara lain Yunani, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Italia, Belanda, Belgia dan Indonesia.

Sebanyak 15 dokter gigi anak dari Jakarta, Bandung, Jogyakarta dan Bali, ikut hadir dalam kongres yang diadakan menjelang penyelenggaraan Special Olympics World Summer Games 2011 untuk atlit tuna grahita dari seluruh dunia.

Anggota delegasi Indonesia antara lain Prof Retno Hajati Sugiarto, Drg. Siti Adiningrum Wiradidjaja, Drg Suzanty Ariany, Drg. Asmaraningtyas Andini, Drg. Gamania P. Monoarta, Drg. Amalina S Hutapea, Drg. Pranasari Setiawan, Drg. Muty Usman, Drg. Wina Ediani Darwis, yang sebagian besar merupakan dokter gigi muda yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan gigi anak Indonesia.

Perwakilan dari Indonesia memberikan presentasi lisan mengenai pengelolaan ketakutan pasien terutama anak terhadap alat bor gigi.

Untuk itu, bor gigi yang ada dimodifikasi Drg. Dhanni Gustana, yang saat ini sedang mengambil spesialisasi di Universitas Gajah Mada, dengan menambahkan alat peredam suara bor dan diganti dengan musik atau lagu.

Selain itu, alat bor yang dimodifikasi untuk dapat diletakkan di jari tangan dokter, sehingga memudahkan dokter melakukan pengeboran gigi terhadap pasien. Penggunaan alat bor ini sudah diterapkan sejak tahun 2008 oleh Drg. Dhanni Gustana di tanah air.

Sebanyak 1600 peserta merasa kagum dan terpukau atas keberhasilan Drg. Dhanni dalam menemukan teknik bor tersebut sehingga pasien anak secara psikologis tidak merasa takut dan lebih nyaman bila dilakukan pemeriksaan dan perawatan gigi.

Selain presentasi, wakil dari Indonesia lainnya yaitu Drg. I Sasmita dari Unpad, Bandung yang mempresentasikan mengenai "The Use of Oral Screen as the treatment to minimize malosclussion due to thumb sucking".

Drg. A. Setiawan dari Unpad mempresentasikan mengenai "Management of Central Permenaodel of Lower Anterior Allignment Teeth in the Ethnic Group Dentomalayid Children".

Dubes RI untuk Yunani Ahmad Rusdi menilai keberhasilan Drg. Dhanni merupakan ujud nyata atas kehebatan putra Indonesia dalam melakukan penelitian dan menemukan inovasi yang tidak kalah dengan ahli dari negara barat.

Kehadiran 15 dokter Indonesia merupakan partisipasi Indonesia dalam melakukan tukar pikiran dan menggali pengetahuan dari peserta kongres negara lainnya sehingga dapat berbagi ilmu pengetahuan dengan sesama peserta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau