Cuaca

Antisipasi Defisit Air di Selatan Indonesia

Kompas.com - 21/06/2011, 03:39 WIB

Jakarta, Kompas - Kawasan selatan Indonesia akan mengalami krisis air pada pertengahan abad ini. Itu didasarkan data iklim sejak tahun 1955. Antisipasi menghadapi ancaman itu perlu segera dilakukan.

Demikian diungkapkan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian, Senin (20/6). Analisis berdasarkan prediksi iklim Meteorogical Research Institute dan data iklim BMKG.

Berdasarkan data curah hujan BMKG 1960-2000, curah hujan di Jawa 2.300 milimeter per tahun. Per bulan sekitar 200 mm yang tergolong tinggi. Namun, 80 persen jatuh pada musim hujan.

Saat kemarau, Mei-September, curah hujan hanya 20 persen dari volume hujan tahunan. Kondisi itu juga terjadi di pulau-pulau lain di selatan Indonesia, termasuk Bali dan Nusa Tenggara.

”Dari tahun ke tahun, volume curah hujan pada musim hujan makin tinggi, sebaliknya saat kemarau,” urai Edvin. Pada beberapa puluh tahun mendatang, wilayah yang akan tetap basah diperkirakan kawasan tengah dan utara Indonesia. Kawasan selatan mengering.

Ketimpangan distribusi curah hujan di antara dua musim itu, menurut Edvin, akan berdampak buruk bagi wilayah tanpa sistem irigasi atau bendungan. Minimnya curah hujan musim kemarau akan mengancam sentra padi.

Untuk mengantisipasi itu, perlu perubahan pola pengelolaan air hujan. Setiap rumah tangga paling tidak perlu punya sistem penampung air hujan dan daerah resapan.

Dari sisi pertanian, yang mungkin dilakukan adalah mengembangkan sistem pertanian dengan varietas tahan kering dan pemanfaatan daerah rawa untuk bertanam padi.

”Bila wilayah selatan akan kurang air, perlu dipikirkan pemindahan sentra pangan ke wilayah lain,” kata Edvin. Itu dilakukan China yang merelokasi daerah pertanian ke wilayah yang aman dalam jangka panjang.

Menurut pakar hidrologi yang juga Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran BPPT Arie Herlambang, penanganan sungai secara satu atap merupakan langkah yang perlu untuk menjaga stabilitas sumber daya air dan mereduksi ancaman bencana akibat krisis air dan banjir.

Hal senada diungkapkan Kepala BMKG Sri Woro B Harijono. Menghadapi dampak perubahan iklim, upaya perlu difokuskan pada rencana adaptasi. (YUN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau