SURABAYA, KOMPAS
Demikian dikemukakan Ketua Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Hendra Lesmana pada Rapat Kerja Nasional XIV HKI di Surabaya, Jawa Timur, Senin (20/6). Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Dedi Mulyadi juga mengatakan, ke depan, seluruh industri harus berada dalam satu kawasan, tetapi harus selektif.
Alasannya, ke depan isu lingkungan dipastikan semakin gencar, terutama menyangkut tanah, air dan udara.
”Berada di satu kawasan industri juga akan menekan biaya, seperti tidak setiap pabrik harus menyediakan fasilitas penanggulangan limbah,” kata Dedo Mulyadi.
Hendra mengatakan, dari sisi investasi, jenis, dan jumlah industri, Pulau Jawa memang sudah tidak memungkinkan untuk dikembangkan. Salah satu alternatif agar inventor tetap menanam modal di Indonesia dengan mengembangkan kawasan industri di luar Pulau Jawa.
Apalagi, kata Hendra, beberapa sektor memiliki potensi besar untuk dikembangkan seperti Dumai, Provinsi Riau, karena di daerah itu terdapat perkebunan kelapa sawit dan Palu di Sulawesi Tengah dengan sumber daya alam rotan dan kakao.
Dengan mengembangkan kawasan industri di luar Pulau Jawa, pemerataan ekonomi secara nasional bisa diperoleh, termasuk penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Dengan membuka kawasan industri di luar Pulau Jawa, pencari kerja tidak akan lagi berbondong-bondong ke Pulau Jawa.
Kendati demikian, sebelum mengembangkan kawasan industri ke Indonesia timur, persoalan klasik seperti infrastruktur jalan, listrik, pelabuhan, serta pasokan gas sangat penting disiapkan. Faktor lain menyangkut perampingan birokrasi dalam mengurus perizinan untuk usaha.
Saat ini di Indonesia ada 58 kawasan industri yang tersebar di 13 provinsi dan 24 kabupaten/kota. Jumlah tenaga kerja yang terserap dalam kawasan industri mencapai 1,5 juta orang. Sementara luas lahan yang digunakan mencapai 29.000 hektar
Menurut Presiden Direktur PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) Rudhy Wisaksono, mengalihkan pengembangan kawasan industri ke luar Pulau Jawa bukan pekerjaan mudah. Alasannya, investor membangun pabrik tidak hanya memerhatikan ketersediaan lahan dan tenaga kerja.