Kawasan industri

Investasi Diarahkan ke Indonesia Timur

Kompas.com - 21/06/2011, 03:42 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Himpunan Kawasan Industri Indonesia mengharapkan pengembangan kawasan industri ke wilayah timur Indonesia. Pembangunan pabrik tidak lagi bertumpu di Pulau Jawa karena ketiadaan lahan sehingga sulit dikembangkan.

Demikian dikemukakan Ketua Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Hendra Lesmana pada Rapat Kerja Nasional XIV HKI di Surabaya, Jawa Timur, Senin (20/6). Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Dedi Mulyadi juga mengatakan, ke depan, seluruh industri harus berada dalam satu kawasan, tetapi harus selektif.

Alasannya, ke depan isu lingkungan dipastikan semakin gencar, terutama menyangkut tanah, air dan udara.

”Berada di satu kawasan industri juga akan menekan biaya, seperti tidak setiap pabrik harus menyediakan fasilitas penanggulangan limbah,” kata Dedo Mulyadi.

Hendra mengatakan, dari sisi investasi, jenis, dan jumlah industri, Pulau Jawa memang sudah tidak memungkinkan untuk dikembangkan. Salah satu alternatif agar inventor tetap menanam modal di Indonesia dengan mengembangkan kawasan industri di luar Pulau Jawa.

Apalagi, kata Hendra, beberapa sektor memiliki potensi besar untuk dikembangkan seperti Dumai, Provinsi Riau, karena di daerah itu terdapat perkebunan kelapa sawit dan Palu di Sulawesi Tengah dengan sumber daya alam rotan dan kakao.

Pemerataan ekonomi

Dengan mengembangkan kawasan industri di luar Pulau Jawa, pemerataan ekonomi secara nasional bisa diperoleh, termasuk penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Dengan membuka kawasan industri di luar Pulau Jawa, pencari kerja tidak akan lagi berbondong-bondong ke Pulau Jawa.

Kendati demikian, sebelum mengembangkan kawasan industri ke Indonesia timur, persoalan klasik seperti infrastruktur jalan, listrik, pelabuhan, serta pasokan gas sangat penting disiapkan. Faktor lain menyangkut perampingan birokrasi dalam mengurus perizinan untuk usaha.

Saat ini di Indonesia ada 58 kawasan industri yang tersebar di 13 provinsi dan 24 kabupaten/kota. Jumlah tenaga kerja yang terserap dalam kawasan industri mencapai 1,5 juta orang. Sementara luas lahan yang digunakan mencapai 29.000 hektar

Menurut Presiden Direktur PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) Rudhy Wisaksono, mengalihkan pengembangan kawasan industri ke luar Pulau Jawa bukan pekerjaan mudah. Alasannya, investor membangun pabrik tidak hanya memerhatikan ketersediaan lahan dan tenaga kerja. (ETA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau