Agar Hubungan Bumil dan Ibu Mertua Harmonis

Kompas.com - 21/06/2011, 11:53 WIB

KOMPAS.com - Masa sembilan bulan kehamilan dapat terkesan seperti pengalaman naik jet coaster. Emosi Anda bisa naik-turun tidak karuan. Tidak jarang, perubahan emosi ini juga dapat berpengaruh negatif pada hubungan Anda dengan orang di sekitar. Dan, yang paling tidak diharapkan adalah bila ini terjadi pada hubungan Anda dengan ibu mertua -yang sebenarnya bisa dibilang sudah mengalami sedikit keretakan. Padahal, dengan kelahiran si buah hati yang semakin mendekat, Anda mungkin akan membutuhkan bantuan dari ibu mertua.

Terjalinnya suatu hubungan yang harmonis memang perlu dilakoni oleh kedua belah pihak. Namun, tidak ada salahnya apabila Andalah yang terlebih dulu berinisiatif. Nah, empat hal ini bisa Anda lakukan untuk mulai memperbaiki hubungan dengan ibu mertua:

1. Berikan ibu mertua peranan aktif
Jika Anda menganggap ibu mertua itu tukang ngatur, coba berikan dia kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi calon anak Anda. "Mintalah dia melakukan sesuatu yang berkesan penting bagi hidup sang bayi," kata Terri Apter, PhD, psikolog yang juga penulis buku What Do You Want From Me? Learning to Get On With In-Laws.

Misalnya, menentukan mana boks tempat tidur yang tepat untuk sang bayi, dari beberapa jenis yang telah Anda pilih. Lebih baik lagi, bila Anda juga melakukan hal ini sambil memancingnya untuk memberikan tips seputar menidurkan bayi. Anda dapat masukan, ibu mertua juga senang.

2. Minta bantuan pasangan
Doronglah suami Anda untuk membuka jalan agar Anda dan ibu mertua bisa berbicara dengan nyaman. Misalnya, dengan memintanya menjadi "juru bicara" yang menyampaikan beberapa pertanyaan Anda kepadanya. Atau, dengan mengajak Anda bertiga makan bersama. "Cobalah untuk meyakinkan pasangan, bahwa apa yang ia lakukan dapat bermakna besar bagi Anda, ibunya, dan juga calon bayi," kata Apter.

3. Ingatlah bahwa Anda dan ibu mertua sama-sama memiliki suami Anda
Anda istrinya, dia ibunya. Anda berdua sama-sama menyayangi pria ini. "Itulah yang selalu harus Anda ingat saat berinteraksi dengan ibu mertua. Terutama di saat anak Anda telah lahir, karena ada banyak konflik yang mungkin terjadi antara Anda dan dia," kata Aviva Samet, PsyD, salah satu penulis buku The Daughter-in-Law's Survival Guide. Pastikan semua perbedaan pendapat maupun keretakan sudah diperbaiki sebelum anak Anda lahir, sehingga tidak menimbulkan masalah yang berlarut-larut.

4. Jangan berharap terjadi keajaiban
Jika memang hubungan Anda dengan ibu mertua sudah bagaikan air dan minyak sejak sebelum Anda menikahi anaknya, berpikirlah realistis. Jangan berharap tiba-tiba Anda dan dia bisa menjadi begitu lengket, seperti hubungan Anda dengan ibu kandung sendiri. "Bila dulu ia selalu terlihat tidak pernah menyetujui pendapat Anda, kemungkinan dia akan selalu begitu," kata Samet.

Namun, jangan putus asa. Apabila memang sudah tidak dapat disatukan lagi, setidaknya Anda masih bisa menghargai dan bersikap sopan terhadapnya. "Anak Anda akan mendapat hal terbaik dari ibu maupun neneknya, dan melihat sisi terbaik dari Anda berdua," kata Samet.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau