Lamongan, Kompas
Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang wilayahnya cukup parah diserang wereng coklat. Sejak Januari 2011 tercatat 10.249 hektar tanaman terserang hama tersebut.
Sejumlah petani di Lamongan menyemprotkan solar selain pestisida. Ada juga petani yang mencampurkan pestisida dengan obat pembasmi nyamuk. ”Akan tetapi, semua upaya itu sia-sia dan wereng makin mengganas,” kata Rofik, Selasa (21/6) di Lamongan.
Di Tuban sedikitnya 767 hektar tanaman padi yang tersebar di 14 kecamatan juga terserang wereng dan mengalami puso.
Kepala Subdinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Sudarmuji menyebutkan, areal lahan yang terserang wereng tersebar di Kecamatan Rengel, Soko, Merakurak, Parengan, Plumpang, Kerek, Tambakboyo, Jenu, Singgahan, Bangilan, Kenduruan, Grabagan, Bancar, dan Palang. Kondisi terparah di Soko, Merakurak, Jenu, Rengel, dan Singgahan. ”Sejumlah petani di Merakurak bahkan memotongi tanaman padi yang terserang hama wereng untuk pakan sapi,” kata Sudarmuji.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Bojonegoro Syarif Usman menyatakan, berbagai upaya yang dilakukan petani tidak mempan dan wereng makin kebal terhadap obat-obatan. ”Perlu gerakan massal memberantas wereng secara serentak. Pola tanam juga harus berubah, tidak tiga kali musim tanam padi terus-menerus. Tujuannya memotong perkembangan wereng,” tuturnya.
Di Gresik wereng coklat merusak batang tanaman padi secara sporadis di 10 kecamatan seluas 3.099,85 hektar. Sekitar 625,80 hektar tanaman padi di antaranya puso.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mulai mengatur pola tanam memasuki musim kemarau. Petani diimbau menghemat air dan menanam tanaman yang membutuhkan sedikit air.
Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Semarang Urip Triyogo mengatakan bahwa pengaturan pola tanam akan segera disosialisasikan kepada petani melalui surat keputusan Bupati Semarang. ”Kami mengimbau petani untuk mengatur dan menghemat penggunaan air. Komoditas yang ditanam pun yang tidak membutuhkan banyak air seperti palawija. Kami hanya mengingatkan bahwa tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya ketika hujan terjadi sepanjang tahun,” kata Urip.
Dia mengatakan, sekitar 4.000 hektar areal sawah tadah hujan tersebar di Kecamatan Pabelan, Beringin, Bancak, Kaliwungu, dan Tuntang. Selama ini areal tersebut tergolong rawan kekeringan. ”Sesuai perkiraan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), Juni ini sudah mulai musim kemarau dan puncaknya pada Agustus,” kata Urip.
Petani juga dapat memanfaatkan 17 embung yang ada. Untuk sawah beririgasi teknis, saluran irigasi yang rusak juga sudah diperbaiki. Tersedia lima pompa air yang dapat dimanfaatkan petani.