Pertanian

Wereng Serang Sejumlah Daerah di Jatim

Kompas.com - 22/06/2011, 04:51 WIB

Lamongan, Kompas - Serangan hama wereng hampir merata di Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Sejumlah petani terpaksa membakar tanaman padi karena kesal. Ada pula yang membabatnya untuk pakan ternak.

Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang wilayahnya cukup parah diserang wereng coklat. Sejak Januari 2011 tercatat 10.249 hektar tanaman terserang hama tersebut.

Sejumlah petani di Lamongan menyemprotkan solar selain pestisida. Ada juga petani yang mencampurkan pestisida dengan obat pembasmi nyamuk. ”Akan tetapi, semua upaya itu sia-sia dan wereng makin mengganas,” kata Rofik, Selasa (21/6) di Lamongan.

Di Tuban sedikitnya 767 hektar tanaman padi yang tersebar di 14 kecamatan juga terserang wereng dan mengalami puso.

Kepala Subdinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Sudarmuji menyebutkan, areal lahan yang terserang wereng tersebar di Kecamatan Rengel, Soko, Merakurak, Parengan, Plumpang, Kerek, Tambakboyo, Jenu, Singgahan, Bangilan, Kenduruan, Grabagan, Bancar, dan Palang. Kondisi terparah di Soko, Merakurak, Jenu, Rengel, dan Singgahan. ”Sejumlah petani di Merakurak bahkan memotongi tanaman padi yang terserang hama wereng untuk pakan sapi,” kata Sudarmuji.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Bojonegoro Syarif Usman menyatakan, berbagai upaya yang dilakukan petani tidak mempan dan wereng makin kebal terhadap obat-obatan. ”Perlu gerakan massal memberantas wereng secara serentak. Pola tanam juga harus berubah, tidak tiga kali musim tanam padi terus-menerus. Tujuannya memotong perkembangan wereng,” tuturnya.

Di Gresik wereng coklat merusak batang tanaman padi secara sporadis di 10 kecamatan seluas 3.099,85 hektar. Sekitar 625,80 hektar tanaman padi di antaranya puso.

Atur pola tanam

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mulai mengatur pola tanam memasuki musim kemarau. Petani diimbau menghemat air dan menanam tanaman yang membutuhkan sedikit air.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Semarang Urip Triyogo mengatakan bahwa pengaturan pola tanam akan segera disosialisasikan kepada petani melalui surat keputusan Bupati Semarang. ”Kami mengimbau petani untuk mengatur dan menghemat penggunaan air. Komoditas yang ditanam pun yang tidak membutuhkan banyak air seperti palawija. Kami hanya mengingatkan bahwa tahun ini tidak seperti tahun sebelumnya ketika hujan terjadi sepanjang tahun,” kata Urip.

Dia mengatakan, sekitar 4.000 hektar areal sawah tadah hujan tersebar di Kecamatan Pabelan, Beringin, Bancak, Kaliwungu, dan Tuntang. Selama ini areal tersebut tergolong rawan kekeringan. ”Sesuai perkiraan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), Juni ini sudah mulai musim kemarau dan puncaknya pada Agustus,” kata Urip.

Petani juga dapat memanfaatkan 17 embung yang ada. Untuk sawah beririgasi teknis, saluran irigasi yang rusak juga sudah diperbaiki. Tersedia lima pompa air yang dapat dimanfaatkan petani.

(UTI/ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau