Pendidikan pancasila

Ical Dukung Pancasila Masuk Kurikulum

Kompas.com - 22/06/2011, 12:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie mendesak pemerintah untuk kembali memasukkan Pendidikan Pancasila ke dalam mata pelajaran dan mata kuliah wajib dalam kurikulum pendidikan nasional. Menurut pria yang akrab disapa Ical ini, Pendidikan Pancasila yang diberikan kepada para peserta didik di semua jenjang pendidikan akan menjadi arus utama dalam mereaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

"Sejak awal saya mengungkapkan agar Pancasila kembali dijadikan mata pelajaran dan mata kuliah wajib di dalam proses pendidikan. Saya menyambut baik niat pemerintah untuk memasukkan kembali Pendidikan Pancasila ke dalam kurikulum nasional," kata Bakrie ketika membuka seminar bertajuk Reaktualisasi Nilai-nilai Pancasila Dalam Pendidikan Untuk Penguatan Karakter Bangsa, Rabu (22/6/2011), di Gedung Nusantara IV DPR RI, Jakarta.

Masuknya Pendidikan Pancasila dalam kurikulum, menurutnya, dapat dijadikan momentum untuk menanamkan kembali nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. "Reaktualisasi dimaksudkan agar nilai Pancasila bisa menjadi pegangan dan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian Pendidikan Pancasila akan menjadi arus utama," ujarnya.

Namun, ia mengimbau, jangan sampai aktualisasi Pancasila dilakukan dengan metode yang indoktrinatif. Metode yang dapat ditempuh adalah melalui pendekatan yang mengedepankan daya kritis peserta didik dan orientasi kesadaran dalam melakukan internalisasi nilai-nilai Pancasila secara dua arah.

"Beri kesempatan mereka (peserta didik) untuk mendalami dan memahani hakikat tentang Pancasila sebagai tonggak pembangunan karakter dan jati diri bangsa," katanya.

Ical malanjutkan, pendidikan formal merupakan salah satu jalur yang efektif, mengingat nilai-nilai Pancasila itu secara sistematis ditanamkan melalui proses pendidikan, sejak usia dini sampai dengan pendidikan tinggi. Selain itu, penanaman nilai-nilai Pancasila juga dapat dilakukan melalui jalur pendidikan informal dan nonformal.

"Sekali lagi saya tekankan, metode Pendidikan Pancasila harus lebih kreatif, dialogis, tidak mematikan daya kritis dan tidak indokrinatif. Peningkatan mutu tenaga pendidik juga perlu diperhatikan, agar mereka juga mampu menanamkan karakter kepada peserta didik dan tidak semata-mata sekedar transfer of know how. Dalam hal ini, integritas dan keteladanan tenaga pendidik menjadi hal yang utama," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau