Riset Kesehatan Kalteng Belum Memuaskan

Kompas.com - 22/06/2011, 15:16 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com  - Sudah dua kali Riset Kesehatan Dasar dilakukan di Kalimantan Tengah yakni pada tahun 2007 dan 2010, namun hasilnya dinilai belum memuaskan. Pembangunan bidang kesehatan dalam beberapa sektor di Kalteng juga dianggap belum maksimal.

Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang di Palangkaraya, Rabu (22/6/2011), mengatakan, hasil riset yang belum memuaskan misalnya, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemberian kapsul vitamin A masih rendah dan berada di bawah angka rata-rata nasional.

Contoh lain yakni, persentase perokok di Kalteng merupakan yang tertinggi di Indonesia dan berada jauh di atas rata-rata nasional. Adapun belum maksimalnya pembangunan kesehatan di Kalteng ditunjukkan dengan keluhan kekurangan obat dan vaksin, masih adanya wabah atau kejadian luar biasa, minimnya tenaga kesehatan di pedalaman, kesenjangan pendapatan tenaga kesehatan pedalaman dan perkotaan, dan belum totalnya pelaksanaan jaminan sosial.

"Saya berkali-kali mendapatkan laporan bahkan melihat sendiri belum maksimalnya pembangunan kesehatan di sebagian sektor," ujar Teras.

Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng telah memprioritaskan dan berupaya mendorong pembangunan kesehatan di Kalteng. Indikator yang menunjukkan tren cukup baik yakni bertambahnya jumlah puskesmas dari 139 unit pada tahun 2005 menjadi 178 unit pada tahun 2010.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau