PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Sudah dua kali Riset Kesehatan Dasar dilakukan di Kalimantan Tengah yakni pada tahun 2007 dan 2010, namun hasilnya dinilai belum memuaskan. Pembangunan bidang kesehatan dalam beberapa sektor di Kalteng juga dianggap belum maksimal.
Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang di Palangkaraya, Rabu (22/6/2011), mengatakan, hasil riset yang belum memuaskan misalnya, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemberian kapsul vitamin A masih rendah dan berada di bawah angka rata-rata nasional.
Contoh lain yakni, persentase perokok di Kalteng merupakan yang tertinggi di Indonesia dan berada jauh di atas rata-rata nasional. Adapun belum maksimalnya pembangunan kesehatan di Kalteng ditunjukkan dengan keluhan kekurangan obat dan vaksin, masih adanya wabah atau kejadian luar biasa, minimnya tenaga kesehatan di pedalaman, kesenjangan pendapatan tenaga kesehatan pedalaman dan perkotaan, dan belum totalnya pelaksanaan jaminan sosial.
"Saya berkali-kali mendapatkan laporan bahkan melihat sendiri belum maksimalnya pembangunan kesehatan di sebagian sektor," ujar Teras.
Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng telah memprioritaskan dan berupaya mendorong pembangunan kesehatan di Kalteng. Indikator yang menunjukkan tren cukup baik yakni bertambahnya jumlah puskesmas dari 139 unit pada tahun 2005 menjadi 178 unit pada tahun 2010.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang