Pada usia 484 tahun

Warga Jakarta Menilai Kotanya

Kompas.com - 22/06/2011, 16:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk menerima masukan dan opini publik secara terbuka tentang kotanya, Pemerintah Provinsi DKI menyediakan sarana berupa 'kotak nyablak' dan spanduk 'Ubeg-ubeg Jakarta'.  

Tentu tidak semua warga Jakarta memiliki kesempatan menyuarakan kritik dan saran mereka melalui merdia itu.

Berikut ini adalah pandangan sebagian warga Jakarta tentang Ibu Kota negara yang hari ini, Rabu (22/6/2011 ) memasuki usia 484 tahun, yang disampaikan kepada Kompas.com.

Karena merasa orang kecil, Yanto (43), pemulung gogoh, tidak merasa pantas memberikan pendapatnya tentang pembangunan dan situasi terkini Jakarta. Pria asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu hanya memberi kesaksian, larangan membuang sampah di kali yang dikeluarkan pemprov DKI terbilang mubazir.

"Ya pasti sia-sia. Buktinya kami yang jumlahnya ratusan, setiap hari masih bisa dapat barang-barang dari kali-kali yang ada di Jakarta," katanya.

Ia menyebut rumah permanen miliknya yang belum lama dibangun sebagai bukti. "Kalau tidak ada sampah lagi di kali, mana mungkin saya bisa membangun rumah," ucap Yanto.

Sikap tegas pemerintah, menurut Yanto cukup muskil tanpa adanya kesadaran masyarakat. "Apa pemerintah punya cukup orang untuk awasi (daerah) sepanjang kali dari malam sampai pagi hari?" tanyanya.

Menurut Yanto, masyarakat yang kurang memiliki kesadaran tersebut bukan hanya masyarakat miskin yang hidup di bantaran kali. Orang-orang yang berkecukupan pun setiap hari melakukan ketidaktertiban dalam membuang sampah.

"Tongkrongin aja sepanjang Kalimalang menjelang tengah malam sampai subuh. Banyak mobil yang berhenti untuk membuang sampah, dari ukuran kantong plastik sampai ukuran karung," kata Yanto yang bermukim di wilayah Cipinang Makassar ini.

 

Rudi, pria berusia 38 tahun, sehari-hari bertugas merawat keindahan kolam air mancur Bundaran Hotel Indonesia (HI) yang disebut sebagai jantung kota Jakarta. Petugas Dinas Pertamanan DKI ini menyatakan memiliki unek-unek yang ingin ditulis, tetapi belum berkesempatan menuliskan sarannya dalam kegiatan 'Usul Begini Usul Begitu buat Jakarta' beberapa waktu lalu.

Ia berharap dapat melihat Jakarta yang bersih dan bebas macet. "Kesadaran masyarakat Jakarta tentang kebersihan masih rendah. Juga ketertiban dalam berlalu-lintas. Semuanya (pengguna jalan) mau menang sendiri," kata Rudi mengungkapkan unek-uneknya tentang Jakarta kepada Kompas.com.

Seorang juru parkir di kawasan Atrium, Senen, Doly (23), punya pandangan tak jauh berbeda. Keinginan untuk mendapatkan akses cepat tapi murah, sering menyebabkan warga Jakarta berpikir instan dengan menghalalkan segala cara.

"Kami sering mengarahkan ke lokasi parkir di dalam, tetapi alasan mereka ingin buru-buru atau hanya berbelanja sebentar," kata pemuda asal Medan ini.

Alhasil, mereka lebih memilih memarkirkan kendaraan di badan jalan (parkir on street) dibandingkan menggunakan lahan yang disediakan. Menurut Doly, aturan parkir off street tidak bisa dilihat sebagai bentuk tindak penertiban terhadap juru parkir liar semata.

"Kami hanya melihat peluang yang ada, karena orang-orang Jakarta membutuhkan itu," tuturnya. Selain penertiban parkir on street, ia menilai penyadaran masyarakat pengendara kendaraan perlu digiatkan melalui tindakan tegas.

Bripda Hermansyah, polisi yang sehari-hari bertugas di Pos Polisi Bundaran HI, juga mengharapkan lalu-lintas kota yang lebih lancar. "Semoga, Jakarta bebas macet," kata Hermansyah singkat.

Agus, seorang pengojek yang sehari-hari mangkal di depan Wisma Nusantara, Hotel Nikko,  mengaku tidak berminat menorehkan usul saran tentang Jakarta. "Pembangunannya udah bagus, udah maju. Hanya padatnya (penduduk) dan macetnya yang jadi soal," kata pria yang memiliki 10 orang anak itu.

Ahya, petugas kebersihan SOR (Sarana Organtama Resik) yang sedang membersihkan areal di sekitar Bundaran HI, memiliki saran sederhana bagi masyarakat Ibu Kota.

"Warga Jakarta jagalah kebersihan, buang sampah pada tempatnya," kata Ahya, yang bertugas membersihkan wilayah dari Sarinah sampai Pos Polisi Bundaran HI.

Salah seorang sekuriti Sinar Prapanca Gelora Senayan, turut menyumbangkan saran moral bagi warga Jakarta. "Jaga kebersamaan, dan saling menghormati," kata petugas keamanan yang mengaku sering diperbantukan untuk menjaga keamanan di Bundaran HI dalam kegiatan-kegiatan khusus.

Ada juga warga yang mengaku enggan memberikan sumbang saran karena merasa tidak pantas. "Kami hanya orang kecil. Apa mau didengar sama yang di atas?" Kata Kasni (53), pedagang Bakpao di sekitar Bundaran HI.

Pria asal Wonogiri, Jawa Tengah, itu mengaku sering diusir karena dianggap mengganggu lalu-lintas di salah satu landmark kota Jakarta itu. "Kalau berdagang aja enggak boleh, apa kami masih berhak ngasih usulan?" kata Bapak empat anak itu. Ia mengaku kerap disuruh berjualan di tempat yang jarang dilewati pembeli, di jalan Imam Bonjol, dekat Gedung Bank Sulut.

"Saya hanya minta, kami pedagang kecil dihargai. Kalau disuruh berjualan di tempat yang enggak ada pembelinya, buat apa saya berdagang," katanya.

Saran mereka terbilang sederhana. Namun, mereka mewakili pernak-pernik realitas berbeda dari situasi harian Ibu Kota. Tinggal pemerintah beserta seluruh warga Jakarta menyatukan fakta-fakta itu sebagai sebuah mosaik utuh yang bermanfaat bagi arah pembangunan Jakarta ke depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau