Status masih waspada

Semeru Didominasi Asap, Bukan Letusan

Kompas.com - 23/06/2011, 12:05 WIB

LUMAJANG, KOMPAS.com — Aktivitas Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) masih didominasi embusan asap, bukan letusan vulkanik.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru di Gunung Sawur, Suparno, Kamis (23/6/2011), mengatakan, selama 24 jam terakhir tercatat jumlah embusan asap sebanyak 19 kali dan gempa tektonik jauh sebanyak dua kali.

"Tidak ada gempa tremor dan guguran lava yang tercatat dalam seismograf selama 24 jam terakhir," tuturnya kepada Antara, Kamis (23/6/2011).

Menurut dia, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu selama beberapa hari terakhir mengeluarkan embusan asap, terkadang disertai gempa tremor atau gempa tektonik jauh.

"Status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih tetap, yakni Waspada (Level II), sehingga warga dilarang melakukan aktivitas yang berjarak 4 kilometer dari puncak Semeru," paparnya.

Ia menjelaskan, suara letusan kuat yang disertai semburan material abu vulkanik pada Jumat (17/6/2011) itu merupakan karakter asli Gunung Semeru.

"Semeru jarang mengeluarkan letusan selama beberapa pekan terakhir, justru didominasi embusan asap. Padahal, biasanya Gunung Semeru mengeluarkan letusan setiap 15 hingga 20 menit," katanya.

Suparno menyayangkan sejumlah pemberitaan yang menyebutkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Semeru karena hal itu membuat masyarakat di lereng Semeru resah.

"Saya mengimbau warga masyarakat tidak mudah percaya dengan isu-isu yang meresahkan itu karena pihaknya selalu berkoordinasi dengan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Lumajang, apabila ada peningkatan aktivitas Semeru," katanya, menambahkan.

Salah seorang tokoh masyarakat di lereng Semeru yang terletak di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Heri Gunawan, mengatakan, masyarakat sudah terbiasa dengan aktivitas Gunung Semeru.

"Kalau Semeru mengeluarkan guguran lava pijar, letusan kecil, dan embusan asap itu sudah biasa bagi aktivitas gunung berapi dengan status waspada," tuturnya.

Menurut dia, masyarakat di lereng Gunung Semeru cukup tenang untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari karena mereka sudah terbiasa dengan aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau