Angkutan massal

MRT Bukanlah Jalan Terbaik

Kompas.com - 23/06/2011, 21:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Solusi pengadaan angkutan massal mass rapid transit (MRT) untuk mengatasi masalah kemacetan Jakarta bukanlah jalan terbaik. Demikian disampaikan pakar kebijakan publik dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Tony Ibanez.

"Biaya pembangunan MRT itu mahal, satu kilometer Rp 1 triliun, tetapi hanya mampu melayani sedikit dari demand yang ada. Target penumpang MRT itu 200.000-300.000 orang per hari, sementara pada tahun 2012 ada 37 juta perjalanan setiap hari di Jakarta. MRT hanya bisa melayani 1 persen saja," ujarnya, saat acara media gathering Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Kantor Pusat Pelestarian, Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (23/6/2011).

Tony lebih mendukung langkah revitalisasi busway tansjakarta, yang lebih pas untuk karakter kota dengan luas wilayah dan penduduk yang padat seperti Jakarta. "Sayangnya, saat ini transjakarta masih beroperasi di bawah kemampuan sesungguhnya. Masalah ini sebenarnya mudah diatasi, seperti salah satunya menambah SPBG (stasiun pengisian bahan bakar gas) untuk transjakarta," katanya.

Lebih lanjut Tony mengatakan, solusi yang paling baik untuk permasalahan mengatasi kemacetan adalah adanya perbaikan dan peningkatan infrastruktur yang sudah ada. "Memperbaiki infrastruktur yang sudah ada dan meningkatkan efisiensi adalah jalan yang paling baik," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau