Teknologi nuklir

Energi Terbarukan Lebih Berpeluang

Kompas.com - 24/06/2011, 03:41 WIB

Jakarta, Kompas - Pengembangan energi terbarukan saat ini lebih berpeluang dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir. Saat berkunjung ke Jepang pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, Indonesia tidak akan membangun PLTN selama masih ada sumber energi lain.

”Presiden Yudhoyono berada di jalur yang tepat untuk memilih sumber listrik selain PLTN,” kata juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Arif Fiyanto, Kamis (23/6), di Jakarta.

Arif mengatakan, ancaman bahaya PLTN lebih besar dibandingkan dengan keuntungannya. Sebaliknya, sumber energi terbarukan tak ada ancaman. ”Ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk mencoret rencana pembangunan PLTN dan segera beralih pada pembangunan sumber energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan angin,” katanya.

Pakar teknologi nuklir yang pernah bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Iwan Kurniawan, mengatakan, tidak dibangunnya PLTN bukan berarti ahli-ahli nuklir di Batan akan menjadi pengangguran. Teknologi nuklir masih perlu mendapat perhatian serius untuk meningkatkan perekonomian di bidang pertanian dan kesehatan.

”Persoalannya mungkin pada anggaran yang telanjur dialokasikan sebesar Rp 450 miliar untuk periode 2011-2013 untuk studi lokasi di Bangka Belitung dan sosialisasi PLTN,” kata Iwan. Dana sebesar itu termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.

”Dana itu akan lebih bermanfaat untuk pengembangan riset teknologi nuklir lain, termasuk kemungkinan untuk mengembangkan kemampuan memproduksi komponen PLTN seperti selongsong bahan bakar nuklir,” kata Iwan. (NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau