Neymar membuka kemenangan Santos melalui gol pada awal babak kedua. Penyerang masa depan ”Selecao” berusia 19 tahun ini berada di sisi kiri kotak penalti saat menerima umpan Araouca dan melesakkannya ke gawang Penarol pada menit ke-47.
Gol pertama itu disambut gemuruh gembira sekitar 40.000 suporter yang memadati Stadion Pacaembu, Sao Paulo, Brasil, Kamis (23/6) WIB.
Gol keenam Neymar ini diawali umpan Paulo Henrique Ganso menggunakan tumit belakang kepada Araouca. Kedua pemain tengah itu tampil gemilang dengan membangun variasi serangan ke pertahanan Penarol yang disiplin.
Santos yang menemukan celah pertahanan Penarol di babak kedua menambah gol pada menit ke-69 melalui bek kanan Danilo. Ia menggiring bola umpan Elano, melewati pemain bertahan Penarol, dan menundukkan kiper Sebastian Sosa.
Penarol mendapat satu gol sepuluh menit kemudian hasil bunuh diri pemain bertahan Santos. Kemenangan 2-1 di final laga kedua ini cukup bagi Santos untuk menjuarai Copa Libertadores 2011. Santos unggul agregat 2-1 setelah menahan Penarol, 0-0, pada laga pertama di Montevideo, Uruguay.
”Ini hari yang paling menggembirakan dalam hidup saya. Saya mencetak sejarah. Kami layak juara,” ujar Neymar.
Kemenangan ini menyejajarjan Santos dengan Sao Paulo FC yang sama-sama tiga kali menjuarai Copa Libertadores. Dua gelar Santos diraih berturut-turut tahun 1962 dan 1963 saat diperkuat Pele.
Pele yang menyaksikan pertandingan itu kehilangan kata- kata untuk mengungkapkan kegembiraannya atas penampilan gemilang generasi muda Santos. Seusai pertandingan, Pele turun ke lapangan, lalu memeluk Pelatih Santos Muricy Ramalho.
”Kami harus berterima kasih kepada anak-anak muda ini yang telah mempersembahkan gelar kepada kami,” ujar Pele.
”Neymar sangat berbakat. Dia tidak mendapat peluang bagus di babak pertama karena Penarol memiliki pertahanan yang bagus,” ujar Pele.
Pelatih Penarol Diego Aguirre tetap bangga kepada para pemainnya meskipun kalah. Penarol mampu mengimbangi Santos di babak pertama dan tidak memberi peluang mencetak gol bagi tuan rumah.
Namun, di babak kedua, Santos menemukan pola permainannya dan mencetak gol pembuka.
”Gol itu adalah kuncinya. Santos menemukan permainannya dan akhirnya meraih juara. Santos adalah tim hebat dan kami tidak bisa bangkit, tetapi saya sangat bangga kepada para pemain saya,” ujar Aguirre yang memperkuat Penarol saat meraih gelar kelima Copa Libertadores tahun 1987.
”Kemasukan gol di awal babak kedualah yang membunuh kami,” ujar penyerang Penarol, Alejandro Martinuccio.