KOMPAS.com — Spionase antara dua seteru tampaknya makin memuncak ke permukaan. Paling baru, pemimpin Hezbollah Sheikh Hassan Nasrallah mengaku kalau dua orang anak buahnya justru bekerja sebagai mata-mata AS di CIA.
Tak cuma itu, menurut Nasrallah, sebagaimana warta AP dan AFP pada Sabtu (25/6/2011), ada orang ketiga yang sedang diselidiki karena diduga melakukan mata-mata untuk CIA. Dalam pesan video yang disiarkan Jumat, Nasrallah menuduh Amerika melakukan langkah tersebut demi Israel. "Israel gagal masuk ke struktur Hezbollah sehingga mereka berpaling ke CIA untuk meminta bantuan," katanya.
Menurut Nasrallah, ketiga anggotanya telah ditahan. Menurut dia, ketiganya tidak membahayakan kemampuan militer Hezbollah. "Informasi yang diminta oleh pejabat-pejabat CIA dari para anggota (Hezbollah) tidak berguna bagi Pemerintah Amerika, yang menjadi perhatian Israel adalah informasi militer untuk perang," jelas Nasrallah lebih lanjut.
Hal itu, kata pemimpin Hezbollah yang selalu menyampaikan pesan dari tempat yang dirahasiakan, menunjukkan bahwa Kedutaan Amerika di Beirut menjadi pusat mata-mata untuk Israel.
Namun, seorang juru bicara Kedutaan Amerika di ibu kota Lebanon menegaskan bahwa tuduhan Nasrallah tidak mempunyai dasar. "Ini merupakan tuduhan-tuduhan kosong Hezbollah yang berkali-kali telah kami dengar," kata juru bicara itu.
Hezbollah masuk dalam daftar organisasi teroris versi Amerika. Dua wakil Hezbollah duduk sebagai menteri dalam pemerintahan Lebanon. Selain itu, organisasi itu juga mempunyai banyak mitra di pemerintah.