Ciptakan Lapangan Kerja Jangan Kirim TKI

Kompas.com - 26/06/2011, 16:06 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com - Anggota Komisi IV bidang kesra DPRD Kalimantan Selatan, Nasrullah AR dari Partai Persatuan Pembangunan, meminta pemerintah provinsi setempat lebih mendorong penciptaan lapangan kerja.

Banyak warga daerah Kalsel mencari pekerjaan keluar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), karena itu perlu diciptakan lapangan kerja untuk mereka, Nasrullah mengatakan Minggu (26/6/2011).

Provinsi dengan luas wilayah sekitar 37.000 Km2 itu cukup kaya sumber daya alam (SDA) dan memilik banyak peluang kerja, ujarnya. "Hanya saja peluang kerja di Kalsel belum maksimal bila dikaitkan dengan SDA yang tersedia, sehingga penduduk provinsi yang kini mencapai 3,6 juta jiwa itu sulit mencari pekerjaan dan sebagian mereka memilih menjadi TKI/TKW," tuturnya.

Wakil rakyat dari PPP yang terkenal "vokal" tersebut bukan cuma meminta penciptaan lapangan kerja, tapi lebih dari itu pula, bagaimana cara agar tingkat kesejahteraan masyarakat Kalsel makin meningkat.

"Dengan terbukanya banyak lapangan pekerjaan serta meningkatnya kesejahteraan, insya Allah warga Kalsel akan tetap tinggal di daerahnya, tak akan mencari pekerjaan keluar negeri," tandasnya.

"Apalagi sebagai pekerja di luar negeri, seperti TKW di Arab Saudi rentan risiko tinggi, yaitu bukan saja mendapat caci maki dan atau deraan majikan, tapi juga bisa terancam hukuman pancung karena ’main hakim sendiri’ akibat tak kuat menahan derita," lanjutnya.

Mantan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sering ikut unjukrasa itu, mencontohkan kasus almarhumah Ruyati binti Sapubi, warga Jawa Barat yang terkena hukuman pancung di Arab Saudi.

Selain itu, sebagaimana pemberitaan ada enam orang warga asal "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" Kalsel di Arab Saudi, yang diduga bakal menjalani eksekusi hukuman pancung, diantaranya Darmawati, TKW asal Martapura Kabupaten Banjar.

Mengenai warga Kalsel yang terancam hukuman pancung seperti di Arab Saudi, Sekretaris Jenderal Pimpinan Nasional Angkatan Muda Ka’bah itu, meminta pemerintah, khususnya Pemprov Kalsel melalui instansi terkait agar lebih maksimal memberikan pembelaan.

"Kalau bisa jangan ada lagi ’Ruyati-Ruyati’ berikutnya yang menjalani nasib serupa dengan warga ’Tanah Pasudan’ Jawa Barat itu," kata Nasrullah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau