Kerusuhan lapas

BNN Tidak Razia, Hanya Menangkap Riyadi

Kompas.com - 26/06/2011, 17:23 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Kalapas Kerobokan, Siswanto, membantah kabar yang beredar bahwa kerusuhan di Lapas Kelas II A Kerobokan, Denpasar, Sabtu (25/6/2011) akibat narapidana tak terima dirazia oleh petugas Badan Narkotika Nasional (BNN).

Siswanto menegaskan, kedatangan BNN bukan untuk melakukan razia, melainkan hanya menangkap seorang narapidana bernama Riyadi yang diduga masih aktif sebagai bandar di dalam lapas.

"Tidak benar ada razia, saya masih punya surat yang diberikan BNN, kedatangan BNN hanya untuk menangkap Riyadi," tegas Siswanto kepada Kompas.com saat ditemui di rumah dinasnya, Jalan Tangkuban Perahu Denpasar, Minggu (26/6/2011).

Menurut Siswanto, meledaknya amarah penghuni lapas lainnya adalah bentuk solidaritas antarnarapidana. "Solidaritas antara napi sangat kuat sekali, bayangkan saja mereka lagi enak-enak tidur trus ada teriakan rekan mereka ditangkap," jelas Siswanto.

Puncak kemarahan napi saat sejumlah petugas BNN hendak mencari barang bukti berupa telepon genggam milik Riyadi di dalam wisma. Napi akhirnya mengamuk dan memukul mundur petugas BNN.

Riyadi pun gagal ditangkap oleh BNN karena mereka buru-buru keluar untuk menyelamatkan diri. "Saya ga tau posisi Riyadi saat itu di mana karena kondisinya sudah seperti itu. Saat itu yang lebih penting adalah keselamatan para pegawai Lapas yang ikut ke dalam," imbuh Siswanto.

Meski mengalami luka di bagian kepala, tangan, dan kaki akibat dihajar oleh narapidana, Siswanto beserta jajarannya berhasil keluar dari wisma Cempaka tersebut. Salah seorang petugas BNN yang menjadi bulan-bulanan narapidana juga turut diselamatkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau