Pidato SBY soal Keistimewaan DIY Disebar

Kompas.com - 28/06/2011, 04:50 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Aktivis pro-penetapan dan pendukung Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tanggal 20 Juni 2011 menyebarkan rekaman suara pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika kampanye di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta pada tahun 2009. Dalam pidato politiknya pada waktu itu, Presiden menyampaikan ajakan untuk mempertahankan Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Semua fraksi di DPR RI sudah diberikan rekaman suara tersebut. Yang memberikan rombongan dari Yogyakarta waktu tanggal 20 Juni lalu," ungkap GBPH Prabukusumo kepada wartawan di Yogyakarta, Senin (27/6/2011).

Menurut rencana, lanjut Prabukusumo, rekaman tersebut akan dikirim oleh masyarakat pro-penetapan yang ada di Jakarta ke Istana Presiden dan Cikeas. Rekaman suara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika kampanye di Yogyakarta akan digandakan sebanyak-banyaknya. "Harapan kami, dengan penyebaran rekaman suara tersebut, ucapan dan tindakan SBY sama," kata mantan Ketua DPD Partai Demokrat DIY ini.

Prabukusumo mengaku sudah cukup lama mencari dokumen semua rekaman SBY ketika kampanye di Yogyakarta ke berbagai radio dan televisi. Setelah berbulan-bulan melakukan pencarian, akhirnya dokumen tersebut ditemukan di salah satu radio di Yogyakarta.

Dia berharap, pemutaran rekaman SBY yang mengajak masyarakat untuk mempertahankan keistimewaan DIY membuat pemerintah paham betul bahwa sejarah luhur berdirinya negara Republik Indonesia dan risiko Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII besar sekali.

"Jika waktu itu setelah Sultan dan Paku Alam memutuskan bergabung dengan Pemerintah Republik Indonesia lalu Belanda marah, maka Yogyakarta tentu dibom Belanda, dan keraton Yogyakarta serta Paku Alaman jadi rata dengan tanah," tutur Prabukusumo.

Lebih lanjut, Prabukusumo menambahkan bahwa lembaga adat keraton, Puro Pakualaman, masyarakat DIY sudah memiliki arah yang sama, pro-penetapan. Pemerintah kemudian memaksakan pemilihan. Hal ini berarti, keputusan tersebut akan gugur dengan sendirinya karena penentuan hal itu harus disetujui tiga pilar, yakni lembaga adat keraton dan puro, masyarakat DIY, serta pemerintah.

"Saya dengar rencananya masyarakat yang pro-penetapan yang ada di Jakarta akan melakukan aksi pepe (berjemur) di depan Istana Presiden pada tanggal 4 Juli 2011," ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau