Commuter Line Bisa Timbulkan Kemacetan

Kompas.com - 28/06/2011, 20:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerapan sistem operasi tunggal (single operation) dengan KRL Commuter Line akan menambah jumlah perjalanan kereta api. Dengan peningkatan ini, pintu-pintu perlintasan sebidang bisa dipastikan akan lebih sering menutup.

Saat uji coba KRL Commuter Line pada 18 Juni 2011 lalu, kereta api bisa melintas dan berhenti di tiap stasiun setiap 3-5 menit sekali baik KRL Ekonomi maupun KRL Commuter Line.

Berdasarkan hal itu, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa memperkirakan akan terjadi kemacetan di titik tertentu. "Dengan adanya Commuter Line pasti frekuensinya akan semakin banyak. Penambahan ini pasti akan berdampak pada gangguan perlintasan sebidang, pasti macet," ujar Royke, Selasa (28/6/2011), di Polda Metro Jaya.

Royke menuturkan kemacetan biasanya terjadi di titik pintu perlintasan yang tidak memiliki underpass atau flyover. Sehingga, kendaraan tidak memiliki jalan alternatif lain saat kereta melintas.

Selain itu, Royke juga mencermati sejumlah titik macet akan terjadi di wilayah Tambun, Bekasi dan Pejompongan, Jakarta Barat. Untuk titik itu, polisi akan menempatkan polisi lalu lintas di pintu perlintasan.

"Kami akan jaga di pintu-pintu perlintasan sebidang. Tentu tidak seluruhnya tapi di titik yang diprioritaskan dan memang padat lalu lintasnya. Kami akan segera berkoordinasi dengan KAI," kata Royke.

Terkait dengan tingkat kecelakaan yang diduga akan meningkat saat Commuter Line diterapkan, Royke menghimbau kepada para pengendara agar lebih waspada. Menurutnya, di perlintasan sebidang, angkutan yang menjadi prioritas adalah kereta api sehingga pengendara lain wajib mengalah.

"Perlintasan sebidang itu hak utama kereta api, sesuai undang-undang. Jadi tiap pengedara baik ada keretanya atau tidak wajib berhenti sejenak menoleh kiri-kanan kalau itu diikuti pasti tidak akan terjadi. Kecelakaan biasanya didahului pelanggaran," tandas Royke.

Ke depan, Royke mengharapkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemerintah daerah setempat agar bisa menyediakan lintasa kereta api yang melayang (elevated). Dengan demikian, lintasan kereta api tidak akan mengganggu lalu lintas kendaraan lainnya di jalan.

Seperti diberitakan, uji coba pada hari Sabtu (18/6/2011), ditujukan untuk melihat kelancaran sistem KRL Commuter Line yang rencananya akan diterapkan permanen per 2 Juli. Program ini dibuat untuk mencapai target 1,2 juta penumpang per hari pada tahun 2019.

Adapun, jumlah penumpang yang dapat diangkut saat ini baru sekitar 400.000 jiwa per hari. Nantinya, semua KRL akan memiliki waktu tempuh perjalanan yang sama, berhenti di stasiun yang sama, dan tidak ada penyusulan antar-KRL.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau