Demokrasi

Banyak Rakyat Mesir Masih Tak Puas

Kompas.com - 29/06/2011, 17:13 WIB

KOMPAS.com - Bau asap gas air mata dan serakan batu masih tersisa di Lapangan Tahrir, Kairo, sejak Rabu (29/6/2011) dini hari. Hampir semalaman, para pengunjuk rasa bentrok lagi dengan polisi di lapangan bersejarah itu.

Sebelumnya, polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata ke arah pendemo. Sementara, baku hantam antara kedua pihak tak terelakkan. Alhasil, sejumlah orang cedera. Para pengunjuk rasa, menurut warta AP dan AFP, menuntut pemerintah untuk mempercepat hukuman bagi para pejabat rezim Mubarak Sejumlah warga menganggap kekerasan ini sebagai yang terburuk dalam beberapa pekan terakhir.

Aksi kekerasan ini berawal ketika polisi mengusir keluarga warga yang tewas dalam revolusi Februari dari halaman kantor televisi pemerintah. Setelah diusir, para pengunjuk rasa kemudian berkumpul kembali di luar kantor Kementerian Dalam Negara yang langsung memicu bentrok dengan polisi.

Perkelahian semakin besar dan bergeser ke Lapangan Tahrir, pusat unjuk rasa rakyat Mesir saat menggulingkan Hosni Mubarak. Di tempat itu pasukan polisi lengkap dengan perisainya didukung berbagai jenis kendaraan menutup jalanan.

Saat polisi menembakkan gas air mata para pengunjuk rasa merebahkan diri ke tanah. Tapi, beberapa dari mereka terlihat terluka.

Salah satu pengunjuk rasa Ahmed Abdel Hamid (26), mengatakan rakyat marah karena sidang pengadilan terhadap para mantan pejabat senior berjalan lambat. Pekan lalu, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara lima tahun untuk mantan menter perdagangan Rachid Mohammed Rachid karena terbukti menggelapkan uang negara.

Selain itu, mantan menteri keuangan Youssef Boutros Ghali dijatuhi hukuman 30 tahun penjara atas tuduhan korupsi. Kedua sidang itu dilakukan secara in absentia atau tanpa kehadiran para terdakwa.

Sementara itu, mantan presiden Hosni Mubarak kini ditahan di rumah sakit militer dan dijadwalkan menjalani sidang pada 3 Agustus mendatang bersama kedua putranya Alaa dan Gamal. Mubarak didakwa bertanggung jawab atas kematian para pengunjuk rasa dalam revolusi Februari lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau