Pedayung Prima Dominasi Seleksi

Kompas.com - 30/06/2011, 04:20 WIB

Jakarta, Kompas - Para pedayung pelatnas Prima Utama mendominasi hari pertama seleksi akhir pembentukan tim inti SEA Games XXVI/2011. Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia menggelar seleksi selama dua hari itu di di Situ Cipule, Karawang, Jawa Barat.

Pelatih perahu naga Suryadi pada seleksi hari pertama, Rabu (29/6), mengatakan, peserta seleksi 126 pedayung. Sebanyak 86 pedayung di antaranya tergabung dalam pelatnas SEA Games Prima Utama. Sisanya, pedayung nonpelatnas dari 16 provinsi.

”Kami membuka kesempatan bagi pedayung kayak dan kano dari luar pelatnas untuk ikut seleksi pembentukan tim inti. Tujuannya, untuk memberi kesempatan kepada atlet luar pelatnas yang berkualitas,” ujar Suryadi.

Seleksi itu untuk mendapat 26 pedayung perahu naga putra, 26 pedayung perahu naga putri, tujuh pedayung kayak putra, tujuh pedayung kayak putri, dan tujuh pedayung kano putra.

Jadi, untuk mendapat atlet kano, kayak, dan perahu naga yang berkualitas, nomor perlombaan adalah nomor perorangan, yaitu K1 (kayak tunggal) putra/putri dan C1 (kano tunggal) putra.

”Kami ingin melihat kemampuan perorangan, dari kekuatan dan catatan waktunya,” ujar Manajer Tim Nasional Perahu Naga PB PODSI Young Mardinal.

Pada penyisihan seleksi awal yang terbagi dalam delapan seri, atlet pelatnas dominan. Mereka umumnya finis pertama, kedua, dan ketiga.

Seleksi itu menerapkan mereka yang finis tiga besar ke semifinal. Urutan keempat dan kelima mengikuti repechage. Babak penyisihan ulang itu untuk yang kalah di babak sebelumnya. Dalam lomba dayung kecepatan angin di tiap lomba dan yang menerpa perahu berbeda sehingga memengaruhi peserta. Jadi, yang tercepat di repechage berhak ke babak berikutnya. Sementara yang finis di urutan keenam dan ketujuh terhenti.

”Atlet yang berlatih secara intensif, seperti pelatnas, lebih efektif hasilnya,” ujar Suryadi.

Pembangunan arena

Suryadi menambahkan, atlet pelatnas yang gagal ke tim inti tidak semuanya dikembalikan ke pengda asal masing-masing. Namun, tetap akan ada sejumlah pedayung yang dipertahankan untuk melapis tim inti.

Sementara pembangunan Situ Cipule untuk arena lomba dayung SEA Games XXVI masih berlangsung. Di lokasi, ekskavator menguruk dan meratakan lahan di bantaran situ dan menggali bagian situ yang dangkal.

Struktur bangunan di areal arena belum tampak. Arena itu bakal dilengkapi menara finis, tribune, gudang perahu, titik start, dan tanggul. Pembangunan arena Situ Cipule diperkirakan rampung September 2011.

Perbaikan dan pelebaran jalan akses dari Pintu Tol Karawang Timur 2 sekitar 5 kilometer masih berlangsung. Beberapa kilometer jalan kini beraspal mulus atau beton, sedangkan lapisan permukaan jalan di beberapa ruas belum mulus.

Mardinal mengatakan, pengerukan Situ Cipule penting karena ada beberapa bagian yang kedalamannya hanya 1 meter. ”Untuk perahu naga kedalamannya cukup 1,5 meter, tetapi untuk subcabang rowing perlu 3 meter,” katanya.

Cabang olahraga lainnya, atletik, tengah memantau hasil latihan atlet trek dan lapangan pelatnas. Pemantauan berlangsung selama ajang Kejuaraan Nasional Atletik 2011 di Stadion Madya, Senayan, Jakarta.

”Kami akan melihat hasil prestasi. Mungkin saja atlet nonpelatnas akan masuk tim inti karena catatan waktu lebih baik atau jarak lemparan lebih jauh,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia M Hasan di Senayan.

(WAD/HLN/YNS)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau