Kisah Anak Durhaka di Pantai Nan Elok

Kompas.com - 30/06/2011, 13:50 WIB

KOMPAS.com - Ia kembali setelah merantau lama. Anak itu hanyalah seorang yang miskin. Namun saat pulang, ia telah menjadi pemuda kaya dan membawa serta istrinya yang cantik. Sayang, semua itu ia nodai dengan akhlak buruk.

Ibunya yang tua renta dan setia menunggu si anak pulang pun terpaksa menelan kenyataan pahit. Atas nama gengsi, si anak tak mengakui ibu kandungnya sendiri. Sedih dan kecewa, sang ibu pun mengutuk anaknya yang durhaka. Kapal yang ditumpangi si anak dan istrinya dihantam badai. Kutukan itu pun menjadi nyata. Si anak berubah menjadi batu.

Cerita rakyat Malin Kundang dari ranah Minang begitu tenar di indonesia. Kisah itu tak hanya dikenal oleh kalangan orang Minang. Namun juga setiap anak dari berbagai suku begitu mengenal tokoh Malin Kundang. Sebuah kisah dengan kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya bakti seorang anak kepada orang tua.

Batu yang konon disebut-sebut sebagai Malin Kundang bisa Anda temui di  Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. Untuk menuju lokasi ini, Anda harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 30 menit melalui jalan berkelok dan menanjak.

Di Pantai Air Manis, Anda akan melihat batu yang berbentuk seperti orang tengah tertelungkup. Batu inilah yang disebut-sebut sebagai Malin Kundang. Beberapa batu lainnya yang berserakan di sekitarnya diyakini sebagai puing-puing kapal karam yang ditumpangi Malin Kundang. Di saat air pasang, ombak akan menyapu bebatuan itu. Konon, ombak yang menerjang bebatuan itu menghasilkan suara seperti ratapan. Laksana sebuah pilu sedih penyesalan Malin Kundang.

Pantai Air Manis tak hanya sekadar tenar karena kisah Malin Kundang. Panorama matahari terbenam di pantai ini luar biasa cantiknya. Di cuaca cerah, bola jingga matahari perlahan turun menyentuh cakrawala. Selain itu, ombak yang konsisten selalu muncul, menjadikan Pantai Air Manis tempat favorit untuk surfing. Apalagi ombaknya tidak terlalu tinggi sehingga cocok untuk para pemula.

Pasir coklat cenderung hitam keunikan lainnya. Pantai yang begitu luas dan datar. Berjalan di atas pantai ini seperti berjalan di tanah lapang. Lebarnya sekitar dua ratus meter di kala air surut. Sekitar lima ratus meter dari batu Malin Kundang ke arah barat, terdapat Pulau Pisang. Tak ada manusia yang menghuni pulau kecil.

Sebenarnya tak pantas menyebutnya sebagai pulau. Karena, Pulau Pisang dan Pantai Air Manis terhubung jadi satu. Di kala air surut, Anda bisa berjalan kaki ke Pulau Pisang. Nah, di saat air pasang, wilayah kecil itu terpisah dari Pantai Air Manis sehingga bagaikan sebuah pulau tersendiri. Monyet-monyet liar namun jinak menghuni pulau itu. Adakan piknik sambil makan jambu yang banyak tumbuh di pulau itu pun menjadi kegiatan seru.

"Tapi hati-hati kalau air pasang, nanti tidak bisa pulang. Karena air jadi  tinggi," Doan yang berprofesi sebagai sopir sekaligus pemandu dari  Padang memperingatkan.

Piknik, surfing, berenang, sampai camping. Aneka kegiatan tersebut bisa dilakukanj oleh wisatawan saat berkunjung ke Pantai Air Manis. Oleh karena itu, pantai ini pun menjadi favorit para wisatawan saat berkunjung ke Kota Padang. Namun tetap saja daya tarik utama bagi wisatawan domestik adalah kisah si anak durhaka yang telah diwariskan secara turun menurun melalui dongeng pengantar tidur setiap anak-anak Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau