Kolom politik-ekonomi

Bangsa Ini Memang Mudah Lupa...

Kompas.com - 02/07/2011, 02:22 WIB

James Luhulima

Sehari menjelang peringatan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni lalu, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri mengeluhkan bahwa bangsa Indonesia cenderung melupakan peranan yang dimainkannya dalam upaya mendorong Presiden Soeharto mundur dari jabatan yang telah digenggamnya selama lebih dari 30 tahun pada tahun 1998.

”Saya dilupakan!” kata Megawati yang pada tahun 1996-1998 dianggap sebagai salah satu ikon penting dari gerakan yang pada akhirnya memaksa Presiden Soeharto mundur dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998.

Pernyataan itu dilontarkan Megawati dalam acara ”Seminar Kebijakan Energi Nasional” di Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, 31 Mei lalu. Namun, pernyataan Megawati itu tampaknya kurang mendapatkan perhatian. Dari sekian banyak wartawan yang hadir pada acara tersebut, hanya satu wartawan yang mengutip pernyataan itu dan dijadikan sebagai judul dan lead (alinea pertama) berita utama surat kabar tersebut.

Surat kabar itu adalah The Jakarta Post, dan judul beritanya, ”I am forgotten: Megawati” (Saya dilupakan: Megawati).

Keluhan Megawati itu menarik, tetapi yang jauh lebih menarik adalah mengapa keluhan itu keluar dari mulut seorang Megawati, yang menjadi saksi sejarah dari bagaimana bangsa ini memperlakukan ayahnya, Presiden Soekarno, pada akhir masa kepemimpinannya. Ia dan saudara-saudaranya pun mengalami sendiri bagaimana bangsa ini memperlakukan ayah dan keluarganya.

Ia menyaksikan dari bagaimana bangsa ini melupakan jasa ayahnya. Soekarno yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dan menjadi presiden pertama dari tahun 1945 hingga 1967, ditinggalkan oleh bangsanya sendiri. Setelah peristiwa G30S, Soekarno secara dipaksa surut ke belakang, terasing dari lingkungannya, hingga ajal menjemputnya, 21 Juni 1970.

Perlakuan yang hampir sama dialami Soeharto setelah ia mundur dari jabatannya sebagai presiden pada tahun 1998. Orang-orang yang tadinya menyanjungnya, bahkan memberinya gelar Bapak Pembangunan, meninggalkan dirinya. Bukan itu saja, mantan Presiden Soeharto pun dikecam, dihujat, dan terus diupayakan untuk diajukan ke pengadilan. Upaya itu bahkan terus dilakukan pada saat kondisi Soeharto sudah tidak laik lagi diajukan ke pengadilan.

Perlakuan bangsa ini terhadap Soeharto membuat Megawati maju ke depan dan membela mantan presiden kedua Indonesia itu. Ia berharap, jika ia yang mengalami sendiri perlakuan buruk pemerintahan Soeharto saja dapat memaafkan, bangsa ini juga seharusnya bersedia memaafkan.

Sayangnya, bangsa ini tidak memiliki jiwa sebesar itu sehingga tidak mampu memaafkan Soeharto hingga ia meninggal pada 27 Januari 2008. Bangsa ini melupakan bahwa Presiden Soeharto mempunyai jasa yang besar bagi bangsa ini.

Setiap koin itu mempunyai dua sisi, ada sisi yang baik dan ada sisi yang buruk. Demikian juga dengan Soeharto, adalah naif jika menganggap tidak ada sisi yang baik dari dirinya.

Ingin mengingatkan

Melihat kenyataan itu, ada dugaan bahwa melalui pernyataannya, Megawati ingin mengajarkan kepada bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarah. Megawati ingin mengingatkan kita untuk tidak melupakan orang-orang yang berjasa bagi negara ini.

Pernyataan Megawati itu menarik, apalagi jika dikaitkan dengan pernyataan Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprodjo, pemikir masalah militer dan politik, yang pada tanggal 27 Juni lalu mendapatkan Penghargaan Kompas.

Dalam wawancaranya dengan Kompas, ia mengemukakan, alam yang ramah dan bersahabat menjadikan orang Indonesia cenderung manja. Segala sesuatunya maunya cepat, gampang, dan selalu mencari jalan pintas. Segala sesuatu dilihat ada tidak gunanya bagi dirinya. Kepentingan orang lain, atau perasaan orang lain, adalah hal yang terakhir yang dipikirkannya.

Ia mengemukakan, berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang sakit. Masyarakat kehilangan pegangan, kehilangan nilai-nilai, orang per orang di masyarakat (baik pejabat maupun orang biasa) hanya memikirkan apa yang bermanfaat atau berguna baginya. Pemikiran itu sempit dan jangka pendek.

Menurut dia, kita harus mengakui bahwa bangsa ini tengah menghadapi krisis yang multidimensi. Kejujuran dan korupsi sudah kehilangan nilai. Orang tidak lagi menganggap kejujuran sebagai hal penting. Demikian juga dengan korupsi. Seseorang akan bersuara keras jika orang lain yang melakukan tindak korupsi. Namun, ketika dia sendiri yang melakukan tindak korupsi, ia tidak menganggap hal itu sebagai hal yang salah dan memalukan.

”Kita memerlukan pemimpin yang berkarakter untuk membawa kita keluar dari semua kekacauan ini,” ujar Sayidiman.

Megawati yang menjabat sebagai presiden kelima (2001-2004) sesungguhnya mempunyai kesempatan untuk membina karakter bangsa Indonesia seperti yang diharapkan. Sayangnya, ia tidak berhasil mengangkat dirinya dari seorang Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi Ibu Bangsa Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau