Nicola Roberts Tolak Perbaiki Hidung dengan Bedah Plastik

Kompas.com - 03/07/2011, 13:54 WIB

LONDON, KOMPAS.com -- Nicola Roberts (25) akhirnya menerima bentuk hidung dengan "benjolan" yang dimilikinya dan mengatakan bahwa ia tak akan memerbaiki bentuk hidungnya itu karena baginya itu merupakan bagian dari dirinya.

Sebelum akhirnya menerima bentuk hidungnya tersebut, ia tidak menyukai hidung dengan "benjolan" itu. Walaupun demikian, ia sudah memutuskan untuk tak menjalani bedah plastik demi memiliki bentuk hidung yang menurutnya sempurna.

"Saya (dulu) begitu lama memiliki rambut pendek dan saya bosan karena tidak bisa berbuat apa-apa dengan rambut itu. Saya ingin rambut panjang yang bisa dikuncir di atas kepala, jadi saya menggunakan hair extension. Saya ingin bisa tersenyum dan tidak berpikir, 'Saya membenci gigi saya'," tuturnya memberi gambaran.

"Saya tak menyukai hidung saya, tapi mengubahnya merupakan sesuatu yang kelewat ekstrem. Hidung itu menjadikan saya diri saya sendiri dan, oke, saya memiliki sebuah 'benjolan' pada hidung saya, tapi masa bodoh. Sejumlah orang memiliki telinga besar, sejumlah orang lagi memiliki bokong besar, setiap orang berbeda," sambungnya.

Roberts mengatakan pula, setiap orang memiliki rasa tak nyaman soal penampilan mereka. Oleh karena itu, lanjutnya, orang-orang mengenakan rias wajah.

"Saya selalu mengatakan bahwa anda harus mencintai diri sendiri dan, sekali anda melakukannya, orang lain akan menjadi lebih nyaman dengan siapa diri anda sebagai pribadi dan saya masih bertahan dengan itu. Jika ada orang-orang yang senang dengan bagaimana mereka terlihat, mereka tidak akan mengenakan make-up. Anda harus membuat diri anda bahagia juga," tuturnya lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau