Tawuran kembali pecah di dua wilayah di Jakarta pada Minggu (3/7).
Tawuran itu pecah di Jalan Tanah Tinggi XII, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, dengan diwarnai hujan bom molotov. Tawuran di kawasan Manggarai itu menyebabkan halte bus transjakarta di depan Pasar Rumput yang rusak pada Sabtu kemarin menjadi semakin rusak pada Minggu sore.
Minggu pagi itu, kaum ibu di Jalan Tanah Tinggi sampai mengurungkan niatnya untuk berbelanja karena khawatir terkena lemparan bom molotov. Hal itu karena lokasi tawuran berdekatan dengan pasar kaget, tempat mereka berbelanja.
Toko-toko di sekitar lokasi tawuran juga menunda membuka tokonya. ”Semua kegiatan terhenti karena tawuran,” ucap Ning, salah satu warga yang menyaksikan kejadian itu.
Sengitnya tawuran antarwarga itu menyisakan pecahan kaca bom molotov yang terserak di pertigaan Jalan Tanah Tinggi. Tak hanya itu, pedihnya gas air mata yang dilemparkan petugas untuk memukul mundur warga yang terlibat tawuran juga masih terasa hingga Minggu siang.
Padahal, pada hari Sabtu, sudah terjadi tawuran di Jalan Tanah Tinggi. Massa yang terlibat saat itu tak hanya mengganggu keamanan, tetapi juga merugikan warga karena massa sampai merusak sebuah bajaj. Atas kejadian itu, polisi mengamankan seorang pemuda yang terlibat tawuran, Apriyan (16).
Fasilitas umum pun tak pelak menjadi sasaran massa tawuran yang mengamuk di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, pada Sabtu kemarin. Hampir separuh kaca pelindung halte bus transjakarta Pasar Rumput hancur terkena lemparan batu.
Menurut polisi yang berjaga di Pos Terpadu Menteng Tenggulun, Inspektur Satu Firmansyah, tawuran pada hari Sabtu itu pecah sampai dua kali, yakni menjelang subuh dan malam hari pukul 20.00-23.00.
Massa yang terlibat tawuran itu adalah warga yang bermukim di belakang Pasar Rumput, dengan warga Jalan Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, yang berada di seberang pasar.
Namun, menurut Firmansyah, tak satu pun dari warga yang terlibat tawuran itu berusia dewasa. Sebaliknya, yang terlibat datang dari kalangan anak-anak usia sekolah menengah pertama dan atas.
Tawuran semacam itu pun, lanjutnya, sudah sering terjadi. Biasanya, tawuran itu pecah pada malam dan menjelang subuh pada tiap hari libur.
Seperti halnya tawuran di Jalan Tanah Tinggi, tawuran di kawasan Manggarai ini pun kembali pecah pada Minggu sore. Kejadian itu, menurut Kepala Kepolisian Sektor Menteng Komisaris Didi Hayamansyah, menyebabkan seorang petugas polisi mengalami cedera pada mata kanannya karena terkena lemparan batu.
”Polisi yang terkena lemparan batu itu bernama Dion dan dia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat,” katanya.
Menanggapi tawuran antarwarga yang terjadi selama Sabtu dan Minggu itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar mengatakan, kepolisian akan menindak dan memproses hukum pelaku perusakan atau penganiayaan apabila mendapatkan laporan dan memperoleh bukti pendukungnya.
Namun, menurutnya, diperlukan pula peran pemerintah dan masyarakat untuk mencegah munculnya gesekan antarwarga dan mencari jalan penyelesaian tawuran. ”Tentu dalam hal ini kepolisian hanya dapat menangani pelanggaran hukumnya.
Sebaliknya, untuk mencari akar permasalahan dari tawuran antarwarga itu, lanjutnya, harus dilakukan oleh sejumlah dinas terkait di pemerintahan. Hal itu tak cukup mengandalkan polisi.
Di pihak lain, masyarakat juga harus ikut menggali permasalahan utama tawuran itu sehingga dapat diantisipasi lebih dini.
”Bagaimana polisi bisa mendamaikan kalau warganya tidak mau didamaikan,” kata Baharudin.