Tawuran

Kegiatan Terhenti Ketika Bom Molotov Melayang

Kompas.com - 04/07/2011, 03:09 WIB

Tawuran kembali pecah di dua wilayah di Jakarta pada Minggu (3/7).

Tawuran itu pecah di Jalan Tanah Tinggi XII, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, dengan diwarnai hujan bom molotov. Tawuran di kawasan Manggarai itu menyebabkan halte bus transjakarta di depan Pasar Rumput yang rusak pada Sabtu kemarin menjadi semakin rusak pada Minggu sore.

Minggu pagi itu, kaum ibu di Jalan Tanah Tinggi sampai mengurungkan niatnya untuk berbelanja karena khawatir terkena lemparan bom molotov. Hal itu karena lokasi tawuran berdekatan dengan pasar kaget, tempat mereka berbelanja.

Toko-toko di sekitar lokasi tawuran juga menunda membuka tokonya. ”Semua kegiatan terhenti karena tawuran,” ucap Ning, salah satu warga yang menyaksikan kejadian itu.

Sengitnya tawuran antarwarga itu menyisakan pecahan kaca bom molotov yang terserak di pertigaan Jalan Tanah Tinggi. Tak hanya itu, pedihnya gas air mata yang dilemparkan petugas untuk memukul mundur warga yang terlibat tawuran juga masih terasa hingga Minggu siang.

Padahal, pada hari Sabtu, sudah terjadi tawuran di Jalan Tanah Tinggi. Massa yang terlibat saat itu tak hanya mengganggu keamanan, tetapi juga merugikan warga karena massa sampai merusak sebuah bajaj. Atas kejadian itu, polisi mengamankan seorang pemuda yang terlibat tawuran, Apriyan (16).

Fasilitas umum pun tak pelak menjadi sasaran massa tawuran yang mengamuk di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, pada Sabtu kemarin. Hampir separuh kaca pelindung halte bus transjakarta Pasar Rumput hancur terkena lemparan batu.

Menurut polisi yang berjaga di Pos Terpadu Menteng Tenggulun, Inspektur Satu Firmansyah, tawuran pada hari Sabtu itu pecah sampai dua kali, yakni menjelang subuh dan malam hari pukul 20.00-23.00.

Massa yang terlibat tawuran itu adalah warga yang bermukim di belakang Pasar Rumput, dengan warga Jalan Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat, yang berada di seberang pasar.

Namun, menurut Firmansyah, tak satu pun dari warga yang terlibat tawuran itu berusia dewasa. Sebaliknya, yang terlibat datang dari kalangan anak-anak usia sekolah menengah pertama dan atas.

Tawuran semacam itu pun, lanjutnya, sudah sering terjadi. Biasanya, tawuran itu pecah pada malam dan menjelang subuh pada tiap hari libur.

Seperti halnya tawuran di Jalan Tanah Tinggi, tawuran di kawasan Manggarai ini pun kembali pecah pada Minggu sore. Kejadian itu, menurut Kepala Kepolisian Sektor Menteng Komisaris Didi Hayamansyah, menyebabkan seorang petugas polisi mengalami cedera pada mata kanannya karena terkena lemparan batu.

”Polisi yang terkena lemparan batu itu bernama Dion dan dia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat,” katanya.

Menanggapi tawuran antarwarga yang terjadi selama Sabtu dan Minggu itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar mengatakan, kepolisian akan menindak dan memproses hukum pelaku perusakan atau penganiayaan apabila mendapatkan laporan dan memperoleh bukti pendukungnya.

   Namun, menurutnya, diperlukan pula peran pemerintah dan masyarakat untuk mencegah munculnya gesekan antarwarga dan mencari jalan penyelesaian tawuran. ”Tentu dalam hal ini kepolisian hanya dapat menangani pelanggaran hukumnya.

   Sebaliknya, untuk mencari akar permasalahan dari tawuran antarwarga itu, lanjutnya, harus dilakukan oleh sejumlah dinas terkait di pemerintahan. Hal itu tak cukup mengandalkan polisi.

Di pihak lain, masyarakat juga harus ikut menggali permasalahan utama tawuran itu sehingga dapat diantisipasi lebih dini.

”Bagaimana polisi bisa mendamaikan kalau warganya tidak mau didamaikan,” kata Baharudin. (COK/ART/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau