BRUSSELS, Minggu -
Dana tahap kedua itu adalah bagian dari dana talangan sebesar 110 miliar euro (Rp 1.364 triliun) yang disiapkan UE dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang disiapkan untuk Yunani. Dengan pengucuran dana ini, Yunani bisa membayar kembali sejumlah utang mereka bulan ini.
Namun, UE masih harus berjuang keras untuk mencegah krisis Yunani menyebar luas. Para menteri keuangan Eropa harus mengawasi agar Yunani mampu bertahan setidaknya hingga 2014 dan tidak jatuh dalam kebangkrutan.
”Kami tidak bisa bersantai. Kami harus bergerak maju secepat mungkin, baik dari sisi UE maupun dari IMF,” ujar Menteri Keuangan Polandia Jacek Rostowski, yang negerinya memegang jabatan bergilir presiden UE, tetapi tidak termasuk dalam zona euro.
Sebelumnya, para diplomat Eropa memperingatkan menteri keuangan UE tampaknya sulit menyelesaikan keputusan dana talangan tahap kedua ini dalam pertemuan mereka berikutnya tanggal 11 Juli. Jika itu terjadi, Yunani masih harus menunggu hingga September untuk memperoleh dana talangan.
Negosiasi untuk langkah penyelamatan berikutnya menjadi lebih kompleks karena sejumlah pemerintahan, terutama Jerman, meminta investor swasta ikut menanggung beban dengan secara sukarela ”menghapus” utang Yunani.
Jerman berharap perusahaan keuangan, bank, asuransi, dan dana pensiun mau membeli obligasi Yunani baru untuk menggantikan obligasi lama yang jatuh tempo, dengan cara yang tidak diinterpretasikan sebagai gagal bayar oleh badan pemeringkat utang.
Rencana kubu yang mendorong keterlibatan swasta ini didukung Institute of International Finance, kelompok keuangan global terkemuka, yang mewakili bank, asuransi, dan pengelola dana investasi.
Perancis, yang sejumlah banknya memberikan kredit dalam jumlah besar kepada Yunani, mengusulkan agar pemberi kredit menukar pinjaman mereka dengan obligasi 30 tahun. Dengan demikian, Yunani memiliki waktu untuk membenahi sektor finansial mereka.
Yunani juga berada dalam tekanan untuk memotong anggaran dan meningkatkan perolehan pajak sebesar 28,4 miliar euro atau sekitar Rp 352 triliun, dan menjalankan program privatisasi untuk memperoleh 50 biliun euro (Rp 620 triliun). Kedua program ini disetujui parlemen Yunani pekan lalu, yang disambut protes massa dan menimbulkan kerusuhan di pusat kota Athena.
”Program yang disetujui parlemen di Athena harus secepatnya diimplementasikan. Program privatisasi itu, misalnya, tak bisa ditunda lagi,” kata Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble,
Menteri Keuangan Yunani Evangelos Venizelos menjanjikan Athena akan memenuhi perjanjian yang mereka buat hingga akhir.
”Yang penting sekarang adalah menentukan jadwal dan penerapan yang efektif dari keputusan yang diambil parlemen. Dengan demikian, kami bisa bangkit dari krisis sesuai kepentingan ekonomi nasional dan rakyat Yunani,” ujarnya.
Krisis keuangan di Yunani telah meluas ke Irlandia dan Portugal. Kedua negara itu juga menerima dana talangan. Negara di zona euro lain, seperti Spanyol dan Italia, mulai memangkas anggaran untuk menghindari krisis serupa.