Krisis yunani

UE Setujui Kucuran Dana Talangan Tahap II

Kompas.com - 04/07/2011, 03:18 WIB

BRUSSELS, Minggu - Uni Eropa menghabiskan akhir pekan untuk mencegah Yunani jatuh dalam kebangkrutan. Pertemuan Menteri Keuangan UE, Sabtu (2/7) malam, menyetujui pengucuran dana talangan tahap kedua senilai 12 miliar euro, atau sekitar Rp 148,8 triliun.

Dana tahap kedua itu adalah bagian dari dana talangan sebesar 110 miliar euro (Rp 1.364 triliun) yang disiapkan UE dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang disiapkan untuk Yunani. Dengan pengucuran dana ini, Yunani bisa membayar kembali sejumlah utang mereka bulan ini.

Namun, UE masih harus berjuang keras untuk mencegah krisis Yunani menyebar luas. Para menteri keuangan Eropa harus mengawasi agar Yunani mampu bertahan setidaknya hingga 2014 dan tidak jatuh dalam kebangkrutan.

”Kami tidak bisa bersantai. Kami harus bergerak maju secepat mungkin, baik dari sisi UE maupun dari IMF,” ujar Menteri Keuangan Polandia Jacek Rostowski, yang negerinya memegang jabatan bergilir presiden UE, tetapi tidak termasuk dalam zona euro.

Sebelumnya, para diplomat Eropa memperingatkan menteri keuangan UE tampaknya sulit menyelesaikan keputusan dana talangan tahap kedua ini dalam pertemuan mereka berikutnya tanggal 11 Juli. Jika itu terjadi, Yunani masih harus menunggu hingga September untuk memperoleh dana talangan.

Negosiasi untuk langkah penyelamatan berikutnya menjadi lebih kompleks karena sejumlah pemerintahan, terutama Jerman, meminta investor swasta ikut menanggung beban dengan secara sukarela ”menghapus” utang Yunani.

Jerman berharap perusahaan keuangan, bank, asuransi, dan dana pensiun mau membeli obligasi Yunani baru untuk menggantikan obligasi lama yang jatuh tempo, dengan cara yang tidak diinterpretasikan sebagai gagal bayar oleh badan pemeringkat utang.

Rencana kubu yang mendorong keterlibatan swasta ini didukung Institute of International Finance, kelompok keuangan global terkemuka, yang mewakili bank, asuransi, dan pengelola dana investasi.

Perancis, yang sejumlah banknya memberikan kredit dalam jumlah besar kepada Yunani, mengusulkan agar pemberi kredit menukar pinjaman mereka dengan obligasi 30 tahun. Dengan demikian, Yunani memiliki waktu untuk membenahi sektor finansial mereka.

Yunani juga berada dalam tekanan untuk memotong anggaran dan meningkatkan perolehan pajak sebesar 28,4 miliar euro atau sekitar Rp 352 triliun, dan menjalankan program privatisasi untuk memperoleh 50 biliun euro (Rp 620 triliun). Kedua program ini disetujui parlemen Yunani pekan lalu, yang disambut protes massa dan menimbulkan kerusuhan di pusat kota Athena.

”Program yang disetujui parlemen di Athena harus secepatnya diimplementasikan. Program privatisasi itu, misalnya, tak bisa ditunda lagi,” kata Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble,

Menteri Keuangan Yunani Evangelos Venizelos menjanjikan Athena akan memenuhi perjanjian yang mereka buat hingga akhir.

”Yang penting sekarang adalah menentukan jadwal dan penerapan yang efektif dari keputusan yang diambil parlemen. Dengan demikian, kami bisa bangkit dari krisis sesuai kepentingan ekonomi nasional dan rakyat Yunani,” ujarnya.

Krisis keuangan di Yunani telah meluas ke Irlandia dan Portugal. Kedua negara itu juga menerima dana talangan. Negara di zona euro lain, seperti Spanyol dan Italia, mulai memangkas anggaran untuk menghindari krisis serupa. (AP/AFP/was)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau