Kekeringan

NTT Bangun 87 Embung

Kompas.com - 04/07/2011, 09:04 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Nusa Tenggara Timur membangun 87 unit embung kecil dengan kapasitas tampungan air antara 25.000-30.000 meter kubik air, guna mengatasi kekeringan di daerah itu. Sebanyak 87 embung itu diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, sekaligus mengairi tanaman palawija.

Nusa Tenggara Timur butuh 5.000 embung kecil tersebar di 21 kabupaten/kota. Embung yang sudah terbangun sebanyak 510 unit, sisa 4.490 unit. Rata-rata satu unit embung kecil butuh dana Rp 1,2 miliar.

Koordinator Teknis Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan (SNVTP) Jaringan Sumber Daya Air, Nusa Tenggara 2, Nusa Tenggara Timur, Pahlawan Perang di Kupang, Minggu (3/7) mengatakan, tahun anggaran 2011, SNVTP NTT membangun 87 unit embung kecil, dengan dana bersumber dari APBN. Jumlah ini belum termasuk embung yang dibangun dengan dana APBD, dari Dinas Pekerjaan Umum NTT.

Embung kecil biasanya dibangun di lokasi terjal, ada permukaan, alur, dan cekungan untuk tampung air hujan. Jumlah debit air juga tidak hanya tergantung pada kapasitas embung, tetapi banyak atau sedikitnya curah hujan, kata Pahlawan.

Dari jumlah 87 unit embung, sudah dikerjakan sebanyak 37 unit. Embung-embung ini tersebar di 12 kabupaten , antara lain Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Manggarai, Flores Timur, Rote Ndao, Sabu Raiju dan Sumba Timur. Pembangunan embung itu tergantung juga pada ketersediaan alat berat seperti eksavator, louder, buldoser, dan lainnya. Alat-alat berat ini milik kontraktor.

Embung kecil bermanfaat untuk air baku (kebutuhan rumah tangga) dan pengairan khususnya tanaman palawija. Embung dibangun di daerah yang benar-benar sangat kesulitan air bersih selama musim kemarau.

Satu unit embung menelan biaya sekitar Rp 1,2 miliar. Jika ada 87 unit embung maka yang dibutuhkan dan a Rp 104,4 miliar, bersumber dari APBN tahun anggaran 2011. Jumlah pengadaan embung tiap tahun terus meningkat. Tahun 2009 sebanyak 45 unit embung, 2010 sebanyak 58 unit, dan 2011 menjadi 87 unit.

"Pembangunan embung di NTT sangat mendesak. Setiap tahun terjadi degradasi hutan yang berpengaruh langsung terhadap kekeringan sejumlah sumnber mata air. Pulau- pulau kecil di NTT sangat membutuhkan embung untuk memenunhi kebutuhan air bersih. Sejumlah penduduk di pulau kecil terpaksa mengambil air di pulau terdekat untuk kebutuhan minum dan memasak, sedangkan mandi dan mencuci mereka gunakan air seadanya," kata Pahlawan Perang.

Pengamatan di Bendungan Tilong, Kabupaten Kupang, bendungan yang menampung air hujan sebanyak 1,7 juta m3 per musim hujan itu, mulai menurun. Kolam bendungan dengan daya tampung hampir mencapai 7000 m2, dan kedalaman 70 meter, tetapi air terisi sampai pada ketinggian 62 meter.

Anggota DPRD NTT John Umbu Detta mengatakan, embung sangat penting untuk daerah kering seperti NTT. Embung tidak hanya menyediakan air baku tetapi juga bagian penting dari konservasi. Ketika embung terbangun di suatu lokasi, daerah di sekitar embung terutama dataran rendahnya menjadi hijau, dan pertanian sekitar embung pun tumbuh subur.

Embung di Tilong, Kabupaten Kupang misalnya, sebelum ada embung, daerah itu sangat gersang dan masyarakat sulit mendapatkan air bersih. Tetapi ketika dibangun 2005, embung itu menjadi andalan masyarakat Kecam atan Kupang Timur, dan mengairi 1.440 hektar sawah setempat.

Detta mengimbau masyarakat agar embung embung yang sudah terbangun di seluruh kabupaten di NTT dijaga dan dirawat. Masyarakat tidak boleh memanfaatkan embung untuk mandi, mencuci atau memandikan ternak langsung di kolam embung.

Ke depan kolam embung harus diberi pagar keliling. Selain itu, masyarakat yang memanfaatkan air itu pun sebaiknya menyumbang Rp 500 atau Rp 1.000 per kepala keluarga per hari. Retribusi ini untuk memperbaiki saluran air ke rumah atau pemukiman warga, selain membangun rasa tanggungjawab terhadap embung itu, kata Detta.  

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau