BANGKOK, KOMPAS.com - Perdana Menteri Thailand, Abhisit Vejjajiva, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua Partai Demokrat, Senin (4/7/2011), saat lawannya, Yingluck Shinawatra, dipastikan akan menjadi perempuan pertama yang menjadi perdana menteri negara itu.
Partai Pheu Thai pimpinan Yingluck mendominasi pemilihan umum negara itu, yang berlangsung Minggu kemarin. Hasil resmi memang belum diumumkan, tetapi dengan lebih dari 90 persen suara telah dihitung pada hari ini, Pheu Thai telah memenangkan 265 kursi dari 500 kursi yang ada di parlemen negara itu.
Abhisit, sebelumnya, telah mengakui kekalahan partainya.
"Jika dibandingkan dengan hasil pemilu 2007 dengan pemilu tahun ini, kami (hanya) memiliki sedikit kursi parlemen," kata Abhisit melalui kantor berita Thailand, MCOT. "Saya berpikir bahwa saya perlu mengambil tanggung jawab ini, jadi hari ini saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi pemimpin partai (Demokrat), dan saya akan membiarkan partai memilih pemimpin baru dalam waktu 90 hari."
Sementara itu, Yingluck siap untuk menjadi perdana menteri baru, lima tahun setelah kakaknya, mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, digulingkan dalam sebuah kudeta militer. "Hal pertama yang saya ingin lakukan adalah membantu situasi ekonomi rakyat," kata Yingluck, Minggu.
Nilai saham Thailand di pasar saham negara itu melonjak lebih dari tiga persen, atau naik 33 poin pada pembukaan hari Senin menyusul kemenangan partai Pheu Thai tersebut. Menurut komisi pemilihan Thailand, tingkat partisipasi warga dalam pemilihan itu mencapai lebih dari 70 persen.
Thaksin, saudara laki-laki Yingluck, menjadi salah satu figur yang paling memecah belah dalam sejarah politik Thailand. Dua tahun setelah kudeta tahun 2006, ia meninggalkan Thailand setelah dihukum atas tuduhan korupsi. Namun ia menyangkal semua yang dituduhkan kepadanya. Para pengeritik Yingluck kuatir, dia hanya akan melakukan perintah kakaknya. Namun Yingluck membantah kemungkinan tersebut.
Namun sebelum Yingluck bahkan memberikan pidato kemenangannya, Thaksin telah meluncurkan komentarnya dari pengasingan di Dubai. "Yah, saya akan memberitahu mereka bahwa saya benar-benar ingin kembali, tapi saya akan menunggu saat dan situasi yang tepat," kata Thaksin kepada wartawan.
Sementara itu, AS memberi selamat kepada Thailand atas pemilihan yang sejauh ini berlangsung aman. "Kami mengucapkan selamat kepada rakyat Kerajaan Thailand, teman lama lama dan sekutu kami, atas partisipasi mereka dalam pemilihan parlemen pada 3 Juli," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland, dalam sebuah pernyataan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang