Belanja Online Kok Masih Bermasalah?

Kompas.com - 04/07/2011, 16:40 WIB

KOMPAS.com - Belanja dan bertransaksi online memang praktis, memudahkan, hemat waktu dan tenaga. Anda bisa memilih dan membeli barang atau jasa, di mana saja dan kapan saja. Kemacetan di jalan yang seringkali memupuskan hasrat belanja, tak lagi jadi kendala. Namun, meski berbagai penyedia layanan jasa belanja online merancang sistem belanja yang user friendly, tetap saja pembeli masih bermasalah dalam bertransaksi.

Penyedia layanan daily deals, DealKeren, juga mengakui, beberapa anggotanya masih mengalami masalah dalam berbelanja online. Meski pun cara belanja hingga cara pembayaran dijelaskan secara mendetil setiap kali akan bertransaksi, tetap saja masih banyak yang awam dengan cara belanja di era internet ini.

"Belanja online memang masih menjadi sesuatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Karenanya yang perlu dilakukan adalah edukasi terus menerus," jelas Adrian Suherman, Chief Executive Officer (CEO) Dealkeren, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sejumlah kendala masih ditemui pebelanja online, kata Adrian. Ia menyebutkan, kendala yang masih dihadapi di antaranya pembayaran dan produk yang ditawarkan. Lebih lanjut Adrian menjelaskan, dalam melakukan pembayaran manual (dengan transfer ke rekening DealKeren), biasanya nomor order lupa disertakan.

"Seringkali pembeli mengeluhkan karena merasa sudah bayar, namun tidak menerima konfirmasi bahwa pembayaran sudah dilakukan. Uang memang sudah masuk ke rekening DealKeren, namun sistem tidak bisa membaca uang itu untuk transaksi apa dan milik siapa, karena biasanya kesalahannya pembeli tidak menyertakan nomor order saat transfer uang," jelas Adrian menambahkan, cara pembayaran sebenarnya sudah dituliskan dengan jelas. Sehingga pembeli hanya perlu teliti mengikuti langkah-langkahnya dengan tepat sesuai penjelasan yang diberikan.

Selain lupa menyertakan nomor order, masalah belanja online biasanya terjadi karena masalah koordinasi. Saat membeli deal melalui situs DealKeren, pembeli kemudian melakukan pembayaran. Selanjutnya, pembeli akan menerima konfirmasi melalui akun di situs DealKeren bahwa produk atau layanan jasa yang dibelinya bisa dipergunakan. Lalu pembeli mencetak voucher dari akun tersebut. Kemudian pembeli membawa voucher yang sudah dicetak tersebut ke toko, restoran, atau merchant yang menjual produk atau jasa yang dibelinya.

"Terkadang, merchant yang sudah memiliki banyak cabang ini kurang berkoordinasi. Sehingga saat pembeli datang, merchant tidak mengetahui mengenai voucher tersebut," jelas Adrian.

Untuk menjawab semua masalah tersebut, Adrian menegaskan pentingnya edukasi kepada konsumen mengenai sistem belanja online. Selain juga, pembeli perlu rajin membaca syarat dan ketentuan berlaku dari setiap penawaran yang dibelinya. Dengan teliti mengikuti setiap tahapan yang sudah dijelaskan mendetil, semestinya tidak akan ada lagi masalah dalam belanja online.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau