Agum Terkejut Timnas Belum Gajian 4 Bulan

Kompas.com - 04/07/2011, 16:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar mengaku terkejut mengenai pemberitaan yang menyebutkan bahwa staf jajaran kepelatihan belum mendapatkan pembayaran gaji selama empat bulan.

"Informasi itu dari mana? Saya belum mendengar hal itu," ucap Agum saat ditemui di sela-sela sarasehan sepak bola bertajuk "Selamatkan Sepak Bola Indonesia dari Sanksi FIFA" di VIP Barat Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (4/7/2011).

Kabar soal keterlambatan gaji diungkapkan oleh Pelatih Alfred Riedl. Pelatih asal Austria itu mengungkapkan bahwa jajaran kepelatihan hingga ofisial timnas belum mendapatkan gaji selama empat bulan.

Persoalan dana juga mengganggu persiapan timnas senior dan timnas U-23. Badan Timnas Nasional mengaku pembiayaan untuk timnas senior dan timnas U-23 belum turun. Padahal, timnas senior membutuhkan dana sebesar Rp 9 miliar, sedangkan timnas U-23 membutuhkan dana sebesar Rp 22 miliar.

Permasalahan ini membuat Indonesia terancam batal tampil di Pra-Piala Dunia 2014 melawan Turkmenistan pada 23 Juli dan Piala AFF U-23, 16 Juli. Agum menyatakan akan mencari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.

"Dalam rapat hari ini mungkin saya akan mendapatkan laporan lengkap. Kami akan mencari solusinya. Kalau soal timnas U-23, pendanaan dari Satlak Prima. Semua belum terima dana dari Satlak. Bukan hanya sepak bola saja," beber Agum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau