Green living n youth creativity

Ssttt..., Ada "Green Police" di Kampus

Kompas.com - 05/07/2011, 02:38 WIB

Upaya membuat lingkungan kita bersih dari segala polusi terus digemakan di banyak kesempatan. Kampus Sekolah Tinggi Komunikasi The London School of Public Relations, Jakarta, tak mau ketinggalan.

im mereka juga membuat acara bertajuk Metamor4youth ”Green Up Your Life!” selama dua hari, Kamis (30/6) dan Sabtu (2/7) lalu, di kampus kawasan Sudirman Park, Jakarta. Hajatan Kompas bersama Tupperware itu untuk menyeru dan mengajak kawula muda lebih cinta bumi dengan cara tak memboroskan energi dan memakai bahan perusak lingkungan.

The London School of Public Relations (LSPR) memang tak memiliki lahan luas. Akan tetapi, panitia penyelenggara yang dipimpin Ghea Anisa berupaya keras membuat panggung cukup representatif di sisi kampus mereka untuk kegiatan di luar ruangan. Sementara kegiatan hari pertama yang berbentuk bincang-bincang (talk show) diadakan di auditorium kampus.

Wawas Swathatafrijiah dari Sentra Teknologi Polimer pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menjelaskan, betapa sulit plastik terurai sehingga perlu waktu sangat lama, hingga 100 tahun, untuk bisa hancur dan terurai.

Untuk menambah wawasan, hadir pula Didi yang memimpin komunitas Gerombolan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh). Ia membagi pengetahuannya bagaimana mendaur ulang sampah, baik kertas, plastik, maupun besi. ”Jangan membuang isi stappler bekas ke tempat sampah karena itu akan sulit terurai,” kata cewek yang juga karyawan perusahaan swasta tersebut.

Hadir pula Direktur Green- eration MB Junerosano yang mengajak hadirin berdiet plastik. Gerakan itu mengimbau untuk tidak terlalu banyak dan mudah menggunakan kantong plastik dalam keperluan sehari-hari. ”Kalau kami bilang stop menggunakan plastik, jelas itu tidak mungkin dilakukan, tetapi kalau diet plastik, menurutku, lebih masuk akal,” ujarnya.

Dia mengajak kita membawa tas belanjaan sendiri untuk mengurangi pemakaian tas plastik saat belanja di warung, pasar, atau supermarket.

Baju dari sampah

Hari kedua, acara Metamor4youth LSPR menampilkan banyak kemeriahan. Selain penampilan band-band yang sebagian awaknya adalah mahasiswa kampus setempat, ada juga lomba desain baju berbahan sampah, sepeda fixie, shuffle, dan band.

Saat para desainer baju menampilkan model yang memakai aneka kreasi mereka pada Sabtu petang, mata hadirin langsung terbuka lebar. Tak hanya karena modelnya cantik-cantik, tetapi juga kreasi bajunya yang cukup unik. Ada yang membuat baju dari karung goni dikombinasi dengan kain perca batik, ada pula yang memilih bahan bekas penggosok badan saat mandi yang dibuat bak renda. Peserta datang dari mahasiswa LSPR, lulusan sekolah mode, dan perancang baju.

Seru juga mendengar penjelasan mengenai bahan-bahan bekas sampah yang mereka pilih untuk membuat baju yang sampai-sampai tak tampak terbuat dari serutan kayu jika mata tak teliti melihatnya.

Program unggulan LSPR pada acara tersebut berupa pemberian penghargaan kepada pengelola green kantin. Dari tujuh pedagang makanan di kantin LSPR kampus Sudirman Park, tim penilai menetapkan Anni Sutryani, pedagang gado-gado, sebagai pemenang. Sayang sekali, Anni, pemilik Warung Kita itu, tak datang saat penyerahan hadiah sehingga tak bisa berbagi pengalaman.

Menurut Ghea, timnya diam-diam mengamati apa yang dilakukan para pedagang makanan di sana selama sebulan terakhir. Sebelumnya, mahasiswa yang tergabung dalam LSPR Climate Change Champions Community sudah memberikan edukasi kepada pedagang agar mereka tak lagi menggunakan styrofoam yang sulit diurai untuk membungkus makanan. ”Ada yang berupaya keras sama sekali tak memakai bungkus plastik sekali pakai dan styrofoam, tetapi ia akhirnya kalah,” kata Ghea, mantan Ketua LSPR Climate Change Champions Community.

Tentang pemenang penghargaan, tim penilai memandang penjual gado-gado tak lagi memakai plastik untuk tempat makanan yang ia jual. Sebagai ganti, ia memakai tempat nasi tanpa sendok plastik. Pembeli diminta mencari sendok sendiri. Ia juga mengajak pembeli untuk makan gado-gado di tempat agar tak perlu memakai pembungkus lagi.

Nah, yang lebih seru saat pengunjung melihat bazar, aksi panggung para penyanyi, penari, dan penggemar sepeda fixie, delapan green police mondar-mandir mengawasi. Mereka memakai kaus putih dengan topi bertulisan ”Green Police”. Para ”polisi” itu tak segan menegur pengunjung yang membuang sampah sembarangan.

Sayangnya, tak semua ”tersangka” pembuang sampah secara sembarangan mau menerima teguran simpatik dengan hati terbuka. Ada yang bersikeras minta polisi tersebut yang membuangkan sampah mereka. Nah, lho.

Memang tak mudah mengajak anak-anak muda yang sudah mahasiswa sekalipun untuk ikut membuat lingkungan kita bebas sampah dan polusi. Bagaimana dengan kamu? (SOELASTRI SOEKIRNO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau