Upaya membuat lingkungan kita bersih dari segala polusi terus digemakan di banyak kesempatan. Kampus Sekolah Tinggi Komunikasi The London School of Public Relations, Jakarta, tak mau ketinggalan.
im mereka juga membuat acara bertajuk Metamor4youth ”Green Up Your Life!” selama dua hari, Kamis (30/6) dan Sabtu (2/7) lalu, di kampus kawasan Sudirman Park, Jakarta. Hajatan Kompas bersama Tupperware itu untuk menyeru dan mengajak kawula muda lebih cinta bumi dengan cara tak memboroskan energi dan memakai bahan perusak lingkungan.
The London School of Public Relations (LSPR) memang tak memiliki lahan luas. Akan tetapi, panitia penyelenggara yang dipimpin Ghea Anisa berupaya keras membuat panggung cukup representatif di sisi kampus mereka untuk kegiatan di luar ruangan. Sementara kegiatan hari pertama yang berbentuk bincang-bincang (talk show) diadakan di auditorium kampus.
Wawas Swathatafrijiah dari Sentra Teknologi Polimer pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menjelaskan, betapa sulit plastik terurai sehingga perlu waktu sangat lama, hingga 100 tahun, untuk bisa hancur dan terurai.
Untuk menambah wawasan, hadir pula Didi yang memimpin komunitas Gerombolan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh). Ia membagi pengetahuannya bagaimana mendaur ulang sampah, baik kertas, plastik, maupun besi. ”Jangan membuang isi stappler bekas ke tempat sampah karena itu akan sulit terurai,” kata cewek yang juga karyawan perusahaan swasta tersebut.
Hadir pula Direktur Green-
Dia mengajak kita membawa tas belanjaan sendiri untuk mengurangi pemakaian tas plastik saat belanja di warung, pasar, atau supermarket.
Hari kedua, acara Metamor4youth LSPR menampilkan banyak kemeriahan. Selain penampilan band-band yang sebagian awaknya adalah mahasiswa kampus setempat, ada juga lomba desain baju berbahan sampah, sepeda fixie, shuffle, dan band.
Saat para desainer baju menampilkan model yang memakai aneka kreasi mereka pada Sabtu petang, mata hadirin langsung terbuka lebar. Tak hanya karena modelnya cantik-cantik, tetapi juga kreasi bajunya yang cukup unik. Ada yang membuat baju dari karung goni dikombinasi dengan kain perca batik, ada pula yang memilih bahan bekas penggosok badan saat mandi yang dibuat bak renda. Peserta datang dari mahasiswa LSPR, lulusan sekolah mode, dan perancang baju.
Seru juga mendengar penjelasan mengenai bahan-bahan bekas sampah yang mereka pilih untuk membuat baju yang sampai-sampai tak tampak terbuat dari serutan kayu jika mata tak teliti melihatnya.
Program unggulan LSPR pada acara tersebut berupa pemberian penghargaan kepada pengelola
Menurut Ghea, timnya diam-diam mengamati apa yang dilakukan para pedagang makanan di sana selama sebulan terakhir. Sebelumnya, mahasiswa yang tergabung dalam LSPR Climate Change Champions Community sudah memberikan edukasi kepada pedagang agar mereka tak lagi menggunakan styrofoam yang sulit diurai untuk membungkus makanan. ”Ada yang berupaya keras sama sekali tak memakai bungkus plastik sekali pakai dan styrofoam, tetapi ia akhirnya kalah,” kata Ghea, mantan Ketua LSPR Climate Change Champions Community.
Tentang pemenang penghargaan, tim penilai memandang penjual gado-gado tak lagi memakai plastik untuk tempat makanan yang ia jual. Sebagai ganti, ia memakai tempat nasi tanpa sendok plastik. Pembeli diminta mencari sendok sendiri. Ia juga mengajak pembeli untuk makan gado-gado di tempat agar tak perlu memakai pembungkus lagi.
Nah, yang lebih seru saat pengunjung melihat bazar, aksi panggung para penyanyi, penari, dan penggemar sepeda fixie, delapan green police mondar-mandir mengawasi. Mereka memakai kaus putih dengan topi bertulisan
Sayangnya, tak semua ”tersangka” pembuang sampah secara sembarangan mau menerima teguran simpatik dengan hati terbuka. Ada yang bersikeras minta polisi tersebut yang membuangkan sampah mereka. Nah, lho.
Memang tak mudah mengajak anak-anak muda yang sudah mahasiswa sekalipun untuk ikut membuat lingkungan kita bebas sampah dan polusi. Bagaimana dengan kamu?