Kriminalitas

Perampok Gondol Komputer, Nyawa Khrisna Ikut Melayang

Kompas.com - 05/07/2011, 03:17 WIB

Hari belum beranjak siang. Kompleks perumahan Green Garden di Kedoya, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (4/7), sudah dikejutkan oleh perampokan yang terjadi di sebuah rumah di kompleks itu dan menewaskan pemiliknya.

Khrisna (76) tewas di tangan perampok yang menyatroni rumahnya di Blok B5 Nomor 12 A sekitar pukul 09.30. Salah seorang pelaku memukul bawah hidung Khrisna hingga berdarah, lalu menutup hidung dan mulutnya dengan plakban.

Pagi itu hanya ada Khrisna dan pembantunya, Karmini (24), di rumah. Putri Khrisna, Puspa (32), sudah berangkat ke tempat kerjanya, sebuah toko bunga di bilangan Kebayoran Lama.

Tak lama datang tiga orang laki-laki menaiki dua sepeda motor ke rumah itu. Karmini membuka pagar dan menanyakan maksud kedatangan ketiga orang tersebut. Mereka membawa kotak kardus dan mengatakan ingin bertemu Puspa untuk mengantarkan pesanan.

Tiba-tiba dia didorong masuk ke dalam rumah oleh tiga orang tersebut. Mereka tidak melepaskan helm yang dikenakan. Karmini berteriak, tetapi mulutnya langsung dibungkam dengan plakban oleh pelaku. Tangannya diikat dengan tali rafia, lalu dia dimasukkan ke kamar mandi. Karena ketakutan, dia tidak berani keluar.

Mendengar suara ribut, Khrisna yang tengah memasak di dapur keluar dan bertanya apa yang terjadi. Bukan jawaban yang didapatnya, melainkan sebuah tonjokan keras di mukanya dan membuat dia limbung.

Salah seorang pelaku lalu membungkam mulut dan hidung Khrisna dengan plakban. Pelaku lalu menggondol satu unit komputer. Dompet Puspa yang ditinggal di rumah juga diacak-acak, tetapi belum diketahui apakah ada barang di dalam dompet yang diambil pelaku.

Kejadian berlangsung sangat cepat, hanya sekitar 15 menit. Pelaku langsung kabur tanpa meninggalkan jejak. Hanya ditemukan sebuah puntung rokok di halaman yang hingga kini masih diperiksa polisi.

Sepi

Kepala Kepolisian Sektor Metropolitan Kebon Jeruk Komisaris Suradi mengatakan, tak lama setelah perampok kabur, Karmini lalu keluar dari kamar mandi dan keluar rumah.

Dalam keadaan tangan masih terikat tali rafia dan mulut ditutup plakban, dia bertemu hansip Mustawa (51) yang tengah berkeliling kompleks. Mereka lalu kembali ke rumah dan mendapati Khrisna sudah tewas.

”Korban sudah berusia lanjut sehingga satu pukulan di bawah hidung langsung melumpuhkannya. Kami duga dia meninggal kehabisan napas karena dibungkam dengan plakban. Ada indikasi korban juga mengalami kelainan jantung,” ujar Suradi.

Indikasi awal penyelidikan, lanjut Suradi, korban dibunuh karena menghalang-halangi aksi perampokan itu. ”Untuk sementara, itu motifnya. Apakah pelaku kenal atau ada hubungan dengan korban dan keluarganya masih kami selidiki,” katanya.

Khrisna, warga keturunan India, memiliki delapan anak. Tujuh anaknya tinggal di tempat lain. Puspa merupakan anak keenam. Sudah belasan tahun dia dan keluarganya tinggal di kompleks perumahan tersebut.

Kompleks perumahan itu terhitung sepi. Rumah-rumah besar dengan pagar tinggi terlihat tertutup rapat. Tak banyak orang berlalu lalang dan kendaraan pun tak banyak yang melintas. Begitu mendengar ada perampokan, warga sekitar lalu berdatangan dan menonton.

Jika memang motifnya perampokan, yang terlihat janggal mengapa pelaku merampok rumah korban yang lebih kecil dibandingkan dengan rumah- rumah lain di sekitarnya.

”Kami duga pelakunya memang rampok jalanan. Mereka pemain kelas bawah, bukan kelompok profesional. Sepertinya begitu melihat ada rumah yang potensial untuk dirampok, mereka beraksi,” kata Suradi.

Dari tempat kejadian, polisi membawa tali rafia yang digunakan untuk mengikat Karmini dan plakban. Sebuah kain dengan bercak darah korban juga dibawa dari lokasi. Suradi mengakui, kasus itu masih minim petunjuk sehingga perlu didalami lebih lanjut.

Hingga kemarin polisi masih meminta keterangan dari Karmini dan Mustawa. Jenazah Khrisna dibawa keluarganya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pihak keluarga enggan memberikan keterangan.

Tak hanya di Jakarta Barat, pencuri juga beraksi di Bekasi. Pencuri menyapu bersih perhiasan dari Toko Mas Mutiara Jaya di Pasar Kranji Baru Blok BB1 Nomor 140, Kota Bekasi. Bagian dalam toko milik Jandri Rahmat (38) itu berantakan dan semua perhiasan sekitar 2 kilogram senilai Rp 500 juta raib. Salah satu gembok pintu juga dipatahkan.

Di Bogor, NWJ (28), pegawai PT TAG, perusahaan pengisian uang di anjungan tunai mandiri (ATM), ditangkap petugas Polres Bogor, Jawa Barat, lantaran membobol ATM BCA di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Pelaku menggunakan smart key perusahaannya untuk menguras Rp 189,5 juta dari ATM. Perbuatan pelaku terekam kamera CCTV. (FRO/BRO/GAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau