Konsumsi BBM Melonjak

Kompas.com - 05/07/2011, 03:33 WIB

Jakarta, Kompas - Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi Eri Purnomo Hadi, Senin (4/7), di Jakarta, menjelaskan, kelangkaan bahan bakar minyak di sejumlah daerah terjadi karena ada lonjakan permintaan masyarakat. Hal ini terjadi lantaran sebagian warga panik akan ada pembatasan kuota BBM bersubsidi.

”Sebenarnya, stok BBM bersubsidi di depo Pertamina mencukupi. Namun, distribusi BBM dari depo menuju SPBU (stasiun pengisian bahan bakar untuk umum) terhambat. Ini kemungkinan terjadi karena banyak SPBU meminta tambahan stok dan kendala transportasi. Jadi, ada keterlambatan pengiriman BBM sampai lebih dari 6 jam,” katanya.

Secara terpisah, Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Mochamad Harun menjelaskan, sampai 28 Juni 2011, realisasi konsumsi premium telah mencapai 11,3 juta kiloliter, padahal kuota yang ditetapkan dalam APBN 2011 sebesar 23,1 juta kiloliter. Sedangkan realisasi konsumsi solar 6,3 juta kiloliter, padahal kuota solar dalam APBN 2011 sebesar 12,99 juta kiloliter.

”Berdasarkan kuota bulanan, penyaluran premium sudah 105,2 persen di atas kuota. Sedangkan penyaluran solar telah mencapai 107,5 persen, yang artinya 7,5 persen di atas kuota yang ditetapkan,” kata Harun.

Tingginya realisasi konsumsi premium dan solar bersubsidi itu dipicu oleh peningkatan konsumsi masyarakat dan ada penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Konsumsi solar naik

Harun menambahkan, lonjakan konsumsi BBM bersubsidi terutama terjadi pada BBM jenis minyak solar. Oleh karena, perbedaan harga minyak mentah dengan produk solar saat ini relatif tinggi, yakni 13,68 dollar AS per barrel. ”Dibandingkan beberapa negara lain, harga BBM bersubsidi di Indonesia tergolong rendah,” katanya.

Sebagai contoh, di Malaysia yang juga menerapkan subsidi, harga premium Rp 5.385 per liter dan solar Rp 5.101 per liter; di China harga premium Rp 9.776 dan solar Rp 10.361 per liter; di Thailand harga premium Rp 11.926, solar Rp 8.428 per liter; di Vietnam harga premium Rp 8.891, solar Rp 8.807 per liter; di India premium Rp 12.615 dan solar Rp 7.628 per liter; dan di Filipina harga premium Rp 10.828, solar Rp 8.765 per liter.

Untuk mengatasi kelangkaan BBM di daerah, manajemen Pertamina telah menambah pasokan BBM bersubsidi dan tidak membatasi penyaluran bahan bakar itu. Saat ini stok BBM bersubsidi sebesar 3,4 juta kiloliter, mencukupi untuk 22 hari ke depan.

”Kami mencoba menambah pasokan di daerah-daerah tertentu secara terukur, diharapkan pemerintah daerah dan aparat terus mengoperasi tindakan-tindakan penyalahgunaan BBM bersubsidi,” ujarnya. (EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau